Selasa 27 Feb 2018 09:34 WIB

Mendag Cek Beras Impor di Gudang Bulog

Pemerintah belum mengambil keputusan untuk melepas beras impor tersebut ke pasar.

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Nidia Zuraya
Ilustrasi Impor Beras
Foto: Foto : MgRol_94
Ilustrasi Impor Beras

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengecek beras impor asal Vietnam yang baru tiba di Gudang Bulog Divre DKI Jakarta dan Banten, Selasa (27/2). Beras tersebut merupakan bagian dari total impor sebanyak 281.000 ton yang dilakukan pemerintah.

"Saya mau memastikan beras impor masuk ke gudang dan digunakan untuk cadangan," kata Mendag, yang didampingi Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti.

Hingga saat ini, pemerintah belum mengambil keputusan untuk melepas beras tersebut ke pasar. Sesuai keputusan dalam rapat koordinasi terbatas, beras yang didatangkan dari Vietnam, Thailand dan India itu akan digunakan untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP).

Enggartiasto mengatakan, beras impor baru akan digelontorkan ke pasar apabila dibutuhkan. Sementara, pemerintah menganggap sampai saat ini kebutuhan masyarakat masih dapat dicukupi dari stok lama.

"Selama masih ada beras hasil panen yang lalu, itu akan terus dikeluarkan."

Hingga Senin (26/2) lalu, total beras impor yang telah masuk ke Indonesia telah mencapai 261.500 ton. Dengan demikian, masih ada 19.500 ton beras lagi yang akan segera tiba di Tanah Air.

Kebijakan impor beras dilakukan pemerintah untuk mengamankan cadangan pangan. Sebab, produksi beras dalam negeri dianggap tidak mencukupi sehingga terjadi kelangkaan pasokan di pasar. Akibatnya, harga bahan pangan pokok tersebut sempat melonjak tinggi pada awal Januari lalu.

Saat ini, Mendag menyebut harga beras sudah mulai turun. Meskipun, ia mengakui, harga rata-rata beras nasional masih lebih tinggi dari HET.

"Yang kita baca trennya turun, meskipun harga belum seperti pada tahun lalu."

Menurut Enggartiasto, masih tingginya harga beras saat ini karena produksi gabah masih terbatas. Maka, sesuai hukum pasar, harga komoditas pangan strategis tersebut masih cukup mahal.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement