Kamis 01 Feb 2018 19:52 WIB

Menperin: Vietnam Melakukan Restriksi Produk Otomotif RI

Vietnam menjadi negara tujuan ekspor produk otomotif RI terbesar kedua di ASEAN.

 Pekerja memeriksa mobil-mobil yang siap di ekspor melalui pelabuhan Tanjung Priok Car Terminal, Jakarta.
Foto: Republika/Prayogi
Pekerja memeriksa mobil-mobil yang siap di ekspor melalui pelabuhan Tanjung Priok Car Terminal, Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Vietnam melakukan restriksi terhadap produk otomotif Indonesia. Vietnam memberikan kuota ekspor terhadap produk otomotif dari Indonesia.

"Kemampuan SUV (Sport Utility Vehicle) kita cukup tinggi. Memang kalau kita mempunyai daya saing tinggi, negara lain pasti membentengi. Oleh karena itu, kita juga harus siap-siap mencari alternatif pasar," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis (1/2).

Menurut Airlangga, ekspor terbesar industri otomotif Indonesia ke negara-negara ASEAN yang tertinggi, yakni ke Filipina, disusul Vietnam dan Thailand. Kapasitas produksi kendaraan roda empat di Indonesia pada 2017 meningkat menjadi 2.258.131 berkat investasi dari Mitsubishi, Wuling dan Sokon yang memproduksi kendaraannya di Tanah Air pada tahun lalu.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D Sugiarto, dalam diskusi bersama wartawan di Jakarta, mengungkapkan penambahan kapasitas produksi terpasang (instaled capasity) itu berjumlah 330 ribu unit yang berasal dari Mitsubishi 160 ribu unit, Sokon 50 ribu unit dan Wuling 120 ribu unit.

"Wuling dan Sokon sudah masuk Gaikindo," kata Jongkie beberapa waktu lalu. Jadi ada penambahan 330 ribu unit kapasitas produksi pada tahun lalu," katanya.

"2,25 juta unit kapasitas produksi itu tersebar dari pabrik-pabrik di Jakarta, Tangerang, Cikarang, Karawang, dan Bogor," katanya menambahkan.

Kendati demikian, kapasitas produksi tersebut belum mampu dimaksimalkan sepenuhnya karena penjualan mobil sepanjang 2017 hanya naik 1,6 persen dari 1.062.716 unit pada 2016 menjadi 1.079.308 unit.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement