Senin 22 Jan 2018 20:15 WIB

Setengah dari Produksi Beras Sukabumi Dikirim ke Daerah Lain

Sukabumi surplus beras tiap tahun.

Rep: Riga Nurul Iman/ Red: Nur Aini
Petani menanam padi di sawah (ilustrasi).
Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Petani menanam padi di sawah (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SUKABUMI -- Produksi padi Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat sekitar 50 persen di antaranya dipasok untuk daerah lain. Pasalnya, Sukabumi mengalami surplus produksi padi setiap tahun.

"Kabupaten Sukabumi mengalami surplus sehingga memberikan kontribusi untuk kebutuhan konsumsi daerah lain, " kata Bupati Sukabumi Marwan Hamami, Senin (22/1).

Pencapaian ini, kata Marwan, terlihat pada Januari 2018 yang dilaporkan surplus hingga 18 ribu ton. Total produki beras pada Januari diperkirakan sekitar 39 ribu ton sementara kebutuhan warga Sukabumi hanya 20 ribu ton.

Marwan mengungkapkan, puncak panen padi di Sukabumi diperkirakan pada Februari dan Maret. Pada momen tersebut dia mengkhawatirkan harga gabah jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).

Oleh karena itu, ujar Marwan, pemkab menyambut baik adanya gerakan serap gabah yang dilakukan Bulog. Adanya gerakan serap gabah ini, menurut dia, petani tidak perlu khawatir lagi akan terjadinya harga rendah pada saat panen raya. Pasalnya, petani sudah memperoleh jaminan pasar dengan harga sesuai HPP.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Sukabumi, Sudrajat menambahkan, pada Januari, Februari, dan Maret 2018 produksi beras di Sukabumi mengalami surplus. Pada Januari produksi beras surplus sebesar 18 ribu ton.

Produksi yang surplus ini, kata Sudrajat, akan berlanjut pada Februari dan Maret 2018. Pada Februari surplus sebesar 157 ribu ton dan Maret sebesar 89 ribu ton.

Dari fakta ini, ujar Sudrajat, seharusnya pemerintah tidak perlu mengimpor beras. Ia khawatir harga beras akan jatuh pada saat musim panen raya yang bersamaan dengan datangnya beras impor.
 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement