Kamis 18 Jan 2018 18:25 WIB

Asosiasi Fintech tak Ingin Dorong Anggotanya IPO

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
Refleksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/12). Menjelang libur Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, IHSG mencatat rekor baru yaitu ke posisi 6.221,01 naik 37,52 poin atau 0,61 persen.
Foto: Puspa Perwitasari/Antara
Refleksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (22/12). Menjelang libur Natal 2017 dan Tahun Baru 2018, IHSG mencatat rekor baru yaitu ke posisi 6.221,01 naik 37,52 poin atau 0,61 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mengaku tidak ada upaya untuk mendorong anggotanya menjual saham perdana di bursa efek (IPO). Sebelumnya, pemerintah mendorong perusahaan perintis atau startup untuk melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO). Bahkan, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara berharap regulator pasar modal Indonesia membuat aturan khusus bagi startup agar bisa melaksanakan IPO.

"IPO itu kan keputusan komersial. Tidak semua orang juga mau IPO karena dengan IPO ya keren sih, tapi cost-nya kan juga gede," ujar Direktur Kebijakan Publik Aftech Aji Sulaeman kepada wartawan di Jakarta, Kamis, (18/1).

Menurutnya, ada beberapa hal yang membuat IPO memerlukan banyak biaya. Di antaranya harus memiliki relasi investor, keterbukaan, dan lainnya.

"Kemudian harus ngebuka share-nya. Kalau saya nih misal punya perusahaan, kalau saya bisa keep sendiri, ngapain saya harus kasih orang," tutur Aji.

Ia menegaskan, Aftech membebaskan anggotanya mau melakukan IPO atau tidak. "Ya karena sebetulnya itu keputusan komersial. Jadi kita tidak ada upaya dorong ke arah sana," ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement