Ahad 07 Jan 2018 10:40 WIB

Penggunaan E-Money Masif, Peredaran Uang Fisik Tetap Tinggi

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nur Aini
 Sejumlah kendaraan antre membayar tol di gerbang Tol Senayan, Jakarta, Selasa (5/9).
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Sejumlah kendaraan antre membayar tol di gerbang Tol Senayan, Jakarta, Selasa (5/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penggunaan uang elektronik atau e-money pada 2017 memang terus meningkat, seiring kewajiban bertransaksi dengan e-money di jalan tol. Meski begitu, Bank Indonesia (BI) menyatakan, kebutuhan uang kartal di masyarakat pun tetap tinggi.

Hal itu terbukti dari catatan Bank Indonesia (BI) uang kartal yang telah diedarkan sepanjang 2017 naik 13,4 persen dibandingkan 2016. Tepatnya mencapai Rp 694,5 triliun sebelumnya hanya Rp 612,6 triliun.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI Suhaedi menyatakan, pertumbuhan uang beredar pada akhir 2017 itu tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Dengan Uang Kartal yang Diedarkan (UYD) paling banyak yakni pecahan Rp 100 ribu sebesar Rp 454 triliun.

 "Pengaruh e-money atau penggunaan alat transaksi nontunai akan menambah efisiensi bagi penggunanya. Kita tidak perlu pakai uang tunai saat transaksi kecil, jadi lebih convenience," ujar Suhaedi kepada wartawan di Gedung BI, Jumat sore, (5/1).

Hal itu, kata dia, memengaruhi kebutuhan uang logam di masyarakat. "Penggunaan e-money yang semakin banyak sebabkan kebutuhan uang logam menurun. Tetap besar tapi dibandingkan sebelumnya, perkiraan kita menurun," tuturnya.

Untuk pengedaran uang logam pada 2017, yang tertinggi yakni pecahan Rp 500. Pengedarannya mencapai Rp 3,8 triliun.

Baca juga: Uang Beredar Selama 2017 Tertinggi dalam Tiga Tahun

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement