Kamis 04 Jan 2018 10:48 WIB

Kurang Sentimen Positif, Laju IHSG Terus Melemah

Rep: Iit Septyaningsih/ Red: Nidia Zuraya
Karyawan melintas di bawah monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ilustrasi
Foto: Sigid Kurniawan/Antara
Karyawan melintas di bawah monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia, Jakarta. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergerakan indeks saham pagi ini, Kamis (4/1), masih cenderung berada di zona merah. Hal itu melanjutkan pelemahannya pada perdagangan kemarin yang ditutup melemah hingga 1,38 persen di level 6.251,48.

Meski pagi ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat. Hanya saja penguatan tersebut sangat tipis yakni 0,1 persen di level 6.257,72.

Maka tidak butuh waktu lama, laju IHSG langsung berbalik melemah. Pada pukul 10.03 WIB, indeks saham terpantau melemah 0,01 persen atau 0,34 poin di 6.251,14.

Pelemahan pun terus terjadi, pada pukul 10.07 WIB, IHSG menurun 0,12 persen atau 7,25 poin ke level 6.244. Kemudian jelang siang, IHSG berada di posisi 6.242,49 atau melemah 0,14 persen.

Analis Binaartha Securities Reza Priyambada mengatakan, ada beberapa faktor yang membuat gerak IHSG cenderung melemah. Di antaranya, karena adanya lelang SUN yang menyerap dana sebesar Rp 25,5 triliun dari penawaran sebesar Rp 86,21 triliun.

"Selain itu, minimnya sentimen pascaIHSG mengalami kenaikan tinggi dan sehari setelah diumumkannya rilis inflasi pada Desember 2017 sebesar 0,71 persen MoM atau 3,61 persen turut memengaruhi IHSG," jelas Reza di Jakarta, Kamis, (4/1).

Lebih lanjut, kata dia, banyaknya saham-saham bigcaps yang masuk dalam jajaran top loser ikut menurunkan laju IHSG. Bahkan kembali tercatatnya aksi beli asing serta menghijaunya sejumlah bursa saham Asia tidak cukup kuat mengangkat IHSG.

"Cenderung masih minimnya sentimen dari dalam negeri membuat peluang IHSG masih dalam tren pelemahannya. Hal itu terlihat dari lemahnya volume beli," tutur Reza.

Walau begitu, ia menilai kondisi tersebut masih wajar. Pasalnya seperti biasa, setiap IHSG telah menyentuh level tertinggi terbarunya, maka cenderung terkena aksi ambil untung.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement