Jumat 15 Dec 2017 13:14 WIB

Donasi Pengiriman Buku Gratis PT Pos Capai Rp 5,8 Miliar

Rep: Arie Lukihardianti/ Red: Gita Amanda
Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi Wahju Setijono (kedua kanan) bersama pihak terkait secara simbolis memegang buku untuk dikirim ke berbagai daerah pada peresmian Donasi Buku untuk Masyarakat, di Kantor POS Indonesia, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (15/12).
Foto: Republika/Edi Yusuf
Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi Wahju Setijono (kedua kanan) bersama pihak terkait secara simbolis memegang buku untuk dikirim ke berbagai daerah pada peresmian Donasi Buku untuk Masyarakat, di Kantor POS Indonesia, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Jumat (15/12).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG -- PT Pos Indonesia, terus menjalankan program pendistribusian buku gratis ke semua wilayah di Indonesia. Menurut Direktur Utama PT Pos Indonesia (Persero) Gilarsi Wahju Setijono, buku yang dikirimkan PT Pos ke berbagai pelosok Indonesia secara gratis jumlahnya sudah mencapai jutaan atau bila dinilai dari biaya pengiriman nilainya sudah mencapai Rp 5,8 miliar.

"Itu jumlah biaya pengiriman buku yang telah kami distribusikan bke seluruh Indonesia," ujar Gilarsi saat memberikan sambutan di acara pemberian donasi buku dari Wakil Rektor ITB untuk dikirimkan melalui PT Pos, di Kantor Pos Bandung, Jumat (15/12).

Gilarsi mengatakan, nilai biaya pendistribusian buku tersebut kalau dihitung memang cukup besar. Namun, PT Pos akan terus menjalankan program ini sebagai bentuk kepedulian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini untuk turut mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, ke depan PT Pos akan mencari donatur yang mau menanggung mendistribusikan buku-buku donasi ini. Sebab, setiap bulan jumlah buku yang didistribusikan selalu naik jumlahnya.

"Program yang kami jalankan, baru setengah tahun sudah sebesar itu. Ke depan pasti nilainya akan terus bertambah," katanya.

Gilarsi menjelaskan, PT Pos menjalankan program ini karena memahami kalau membangunan sumber daya manusia (SDM) tak bisa hanya oleh pemerintah. Tapi, harus bekerja sama dengan semua pihak.

"Berdasarkan hasil penelitian, anak usia 15 tahun di Indonesia dari sisia kompetitif nya peringkat 62 dari 69 negara. Kalau di usia 15 tahunnga tidak kompetitif maka akan sulit menghadapi persaingan global," katanya.

Gilarsi menilai, untuk meningkatkan daya siang kuncinya adalah membaca. Dengan membaca kemampuam matematika dan sains pun akan meningkat.

Sementara menurut Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi dan Kemitraan Insititut Teknologi Bandung (ITB), Bambang Riyanto Trilaksono, pihaknya menyumbangkan buku yang cukup unik untuk didistribusikan pada seluruh daerah di Tanah Air. Buku tersebut unik, karena menjawab pertanyaan yang sering muncul dalam benak anak-anak. Hal tersebut menjadi unik, karena untuk seorang ilmuan mungkin akan memiliki pemahaman tapi untuk anak-anak penjelasannya harus sesuai dengan alam pikiran mereka.

"Buku tentang jawaban atas pertanyaan anak-anak tersebut, diinsiasi oleh ITB," katanya.

Bambang pun, menyambut baik kerja sama yang dilakukan dengan PT Pos yang secara khusus akan mengirimkan buku-buku secara gratis ke taman-taman baca. Hal ini, merupakan satu sinergi yang baik dan disambut untuk ke depan.

"Universitas sering dianggap menara gading. Ini bukti, kita membumi dan terjun langsung berkontribusi dalam peningkatan literasi anak-anak bangsa," kata Bambang seraya mengatakan, sudah banyak yang menyatakan, budaya literasi manusia di Indonesia sangat rendah hal ini merupakan upaya kecil yang bisa meningkatkan literasi untuk kemajuan bangsa.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement