Selasa 10 Mar 2026 05:43 WIB

Harga Minyak Mentah Terjun, Trump Mundur dari Perang?

Harga minyak kini menyentuh level di 88 dolar AS per barel.

Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). Indonesia menyatakan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai 110 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026) belum berdampak pada harga BBM.
Foto: ANTARA/M Risyal Hidayat
Sejumlah pekerja melakukan perawatan sumur Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022). Indonesia menyatakan kenaikan harga minyak dunia yang mencapai 110 dolar AS per barel pada Senin (9/3/2026) belum berdampak pada harga BBM.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Harga minyak terjun bebas setelah menyentuh level di atas 110 dolar AS per barel. Pada Senin (9/3/2026), harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, sempat mencapai 119,50 dolar AS per barel.

Sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) dari Amerika Serikat juga melonjak hingga 119,48 dolar AS per barel. Namun, harga tersebut kemudian turun kembali ke level di bawah 90 dolar AS per barel pada penutupan perdagangan.

Baca Juga

Pada CBS News, Senin (9/3/2026) Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa ia menilai perang dengan Iran “very complete”. Harga minyak di bawah 90 dolar AS per barel masih lebih tinggi dibandingkan sebelum serangan Israel dan AS ke Iran pada 28 Februari 2026.

Meroketnya harga minyak dipicu gangguan produksi dan pengiriman minyak global. AS telah menyerang sejumlah infrastruktur vital termasuk fasilitas sipil dan produksi minyak Iran dan secara khusus membuat pasokan energi tersebut terganggu.

Iran telah menutup jalur perdagangan Selat Hormuz dan belum mengisyaratkan pembukaan kembali. Negara-negara produsen utama di kawasan seperti Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab juga mengurangi produksi karena keterbatasan ekspor dan kapasitas penyimpanan yang semakin penuh.

Peneliti dampak ekonomi perang dari Cornell University, Nicholas Mulder mengatakan gangguan yang terjadi saat ini bisa menjadi guncangan pasokan minyak terbesar dalam sejarah modern. Ia menyebut jumlah minyak yang hilang dari pasar global kini capai tiga hingga empat kali lebih besar dibandingkan krisis minyak 1973 dan 1979.

Perusahaan riset energi Rystad Energy menyatakan sekitar 15 juta barel minyak, atau sekitar 20% pasokan dunia, biasanya melewati Selat Hormuz setiap hari. Jim Burkhard dari S&P Global Energy mengatakan krisis ini tidak lagi hanya soal transportasi energi.

Pemulihan produksi, menurutnya, akan menjadi operasi teknis besar yang bisa memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan lebih lama. Beberapa analis bahkan memperkirakan harga minyak dapat mencapai 150 dolar AS per barel jika Selat Hormuz tetap tertutup selama beberapa pekan kedepan.

Angka itu akan melampaui rekor sebelumnya sekitar 147 dolar AS per barel yang terjadi menjelang krisis finansial global 2008. Lonjakan harga tersebut bisa memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.

photo
Harga minyak mentah turun hingga 20 persen ke level di bawah 90 dolar AS pada Selasa (10/3/2026). - (Trading Economics)

Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan inflasi global dan menekan daya beli rumah tangga. Dampaknya merambat ke banyak sektor, mulai dari harga bahan bakar pesawat, bensin kendaraan, hingga tagihan listrik rumah tangga.

Ekonomi Asia diperkirakan menjadi yang paling rentan karena ketergantungannya pada impor energi dari Timur Tengah. Iran sendiri mengekspor sekitar 1,6 juta barel minyak per hari, sebagian besar ke China. 

sumber : AP
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement