Senin 06 Nov 2017 17:16 WIB

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,16 Persen

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Elba Damhuri
Aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Surabaya.
Foto: Dokumen
Aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Surabaya.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur merilis pertumbuhan ekonomi Jatim pada kuartal ketiga 2017 sebesar 5,37 persen (yoy). Perekonomian Jatim pada kuartal III 2017 jika diukur berdasarkan produk domestik regional bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 520,6 triliun.

"Sedangkan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp 381,3 triliun," kata Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik BPS Jatim, Khaerul Agus, di Kantor BPS Jatim, Surabaya, Senin (6/11).

Dari sisi produksi, lanjut Khaerul, semua lapangan usaha tumbuh positif, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha pengadaan listrik dan gas yang tumbuh 8,97 persen. Kemudian, diikuti konstruksi 7,62 persen, serta transportasi dan pergudangan sebesar 7,56 persen.

Khaerul menjelaskan, struktur perekonomian Jawa Timur menurut lapangan usaha kuartal III 2017 didominasi tiga lapangan usaha utama. Ketiganya adalah industri pengolahan dengan kontribusi sebesar 28,41 persen, pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 13,65 persen, serta perdagangan besar eceran dan reparasi mobil-speda motor sebesar 18,42 persen.

Pertumbuhan ekonomi Jawa Timur kuartal III 2017 terhadap kuartal sebelumnya (q-to-q) mengalami pertumbuhan sebesar 3,74 persen. Faktor musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan mewarnai pertumbuhan tersebut.

"Terjadi panen raya beberapa komoditas tanaman perkebunan seperti tebu dan tembakau. Sementara beberapa komoditas tanaman pangan sudah melewati masa panen," ujar Khaerul.

Selain itu, pembayaran gaji ke-13 PNS juga mempengaruhi pertumbuhan lapangan usaha administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib.

Khaerul menjelaskan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dari kuartal I hingga kuartal III 2017 terhadap tahun sebelumnya mengalami pertumbuhan sebesar 5,12 persen. Namun demikian, situasi ini melambat jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,57 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement