Jumat 22 Sep 2017 20:23 WIB

Kementan Minta Peternak Domba dan Kambing Bentuk Korporasi

Rep: Melisa Riska Putri/ Red: Gita Amanda
Domba Garut (ilustrasi)
Domba Garut (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kemitraan dan pembentukan korporasi penting dalam sinergi antar peternak kambing dan domba. Dengan begitu akan dapat mendorong peningkatan peran dan kontribusi komoditas kambing dan domba untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani serta peningkatan daya saing.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita mengatakan, pemenuhan kebutuhan produk daging domba dan kambing saat ini dapat dipenuhi dari wilayah sendiri dan cenderung mengalami surplus di setiap daerah.

 

"Populasi domba dan kambing mengalami pertumbuhan setiap tahunnya," katanya pada acara Jambore Peternakan Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur, Jumat (22/9).

 

Melalui siaran resminya ia mengatakan, jumlah ternak domba dan kambing di Indonesia mencapai lebih dari 33,5 juta ekor, dengan rincian populasi kambing sebanyak 17.847.197 ekor dan domba sebanyak 15.716.667. Angka tersebut berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan 2017.

 

Jumlah ternak domba dan kambing yang sebanyak itu dipelihara oleh peternak kecil sekitar 95 persen atau sebanyak 31,8 juta ekor. Namun struktur usaha peternakan domba dan kambing saat ini masih didominasi oleh peternak rumah tangga dengan rataan tingkat pemilikan empat hingga enam ekor.

 

Menurutnya, struktur usaha seperti itu sangat rentan mengalami inefisiensi dan kesulitan dalam intervensi pasar. "Untuk itu, peternak perlu membentuk kelompok yang besar yang memiliki industri perbibitan sendiri, mengaplikasi teknologi produksi sendiri yang lebih modern dan mengolah hasil ternaknya sendiri, serta menggalang menembus pasar ritel sendiri," ujarnya.

 

Sementara itu, terkait Jambore Peternakan Nasional 2017 pihaknya berharap bisa menjadi momentum kebangkitan sekaligus penyadaran kepada seluruh masyarakat peternakan Indonesia untuk memberi perhatian lebih serius kepada peningkatan produksi domba dan kambing. Sehingga mampu berperan menjadi sumber protein hewani untuk mencerdaskan masyarakat.

 

Saat ini, konsumsi daging domba dan kambing relatif masih kecil dan cenderung mengalami penurunan. Ketut mengatakan, berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan Tahun 2017, kontribusi konsumsi daging nasional, yaitu ayam ras 57 persen, sapi 16 persen, domba dan kambing masing-masing dua persen dan sisanya dari jenis ternak lainnya.

 

"Jika kita lihat populasi berlebih dibandingkan dengan konsumsi masyarakat yang masih rendah, dan tentunya ini merupakan peluang untuk pengembangan domba dan kambing di masa mendatang sebagai peluang ekspor," kata Ketut.

 

Jika dilihat dari pangsa pasar, Indonesia merupakan pasar potensial dengan jumlah pendudu terbesar keempat dunia, dan terus bertambah. Pemenuhan kebutuhan dalam negeri, seperti untuk pemenuhan aqiqah, qurban dan budaya dengan menggunakan ternak kambing dan domba yang tidak dapat tergantikan dengan ternak lainnya merupakan peluang pasar tersendiri.

 

"Selain itu juga terdapat peluang ekspor ke ASEAN dan Timur Tengah," lanjut dia.

 

Saat ini, kata dia, sudah ada peternak kambing yang siap untuk mengekspor ke Brunei Darussalam yakni PT. Tamarhindi di Desa Mega Timur Kalimantan Barat. Untuk mendorong pengembangan usaha dan peningkatan ekspor domba dan kambing, Kementerian Pertanian akan melakukan tinjauan kembali terhadap Permentan Nomor 52 Tahun 2011 terkait persyaratan teknis domba dan kambing untuk ekspor.

 

Berita Lainnya
Terpopuler

Rekomendasi