Sabtu 12 Aug 2017 05:07 WIB

BI Catat Defisit Transaksi Berjalan Membesar

Red: Nur Aini
 Warga melintas didekat logo Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Warga melintas didekat logo Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu (1/7).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia mencatat terjadi kenaikan defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2017 menjadi 5 miliar dolar AS atau 1,96 persen Produk Domestik Bruto (PDB) dibanding kuartal sebelumnya yang sebesar 0,98 persen PDB atau sebesar 2,4 miliar dolar AS.

"Defisit lebih besar karena menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas disertai meningkatnya defisit neraca jasa dan pendapatan primer," kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (11/8).

Jika dibandingkan periode sama tahun lalu maka defisit transaksi berjalan lebih rendah 27 basis poin. Pada kuartal II 2016, defisit transaksi berjalan sebesar 5,2 miliar dolar AS.

Gubernur BI Agus Martowardojo sebelum publikasi neraca transaksi berjalan mengatakan pada kuartal II 2017 memang terjadi perlambatan ekspor, khususnya pada komoditas nonmigas. Menurut statistik BI, di tengah ekspor nonmigas yang turun menjadi 35,3 miliar dolar AS pada kuartal II 2017 dibanding triwulan I 2017 yang sebesar 36,4 miliar dolar AS, impor nonmigas justru naik menjadi 29,3 miliar dolar AS dari 28,8 miliar dolar AS, baik termasuk bahan baku maupun barang konsumsi, sehingga surplus perdagangan nonmigas menurun dibanding kuartal I 2017.

Hal itu disebabkan permintaan domestik yang melonjak akibat kebutuhan konsumsi saat Ramadhan dan Idul Fitri 1438 Hijriah.

Sementara itu, defisit neraca jasa juga meningkat menjadi 2,3 miliar dolar AS bersumber dari turunnya surplus jasa wisata (travel) dan naiknya defisit neraca pendapatan primer karena meningkatnya pembayaran dividen sesuai dengan pola musimannya. Defisit neraca pendapatan primer menjadi 8,9 miliar dolar AS dari kuartal I 2017 yang sebesar 7,7 miliar dolar AS.

Di sisi lain, peningkatan defisit transaksi berjalan tertahan karena menurunnya defisit neraca perdagangan barang migas menjadi 1,5 miliar dolar AS dibanding kuartal I 2017 yang sebesar 2,1 miliar dolar AS, sejalan dengan turunnya harga dan volume impor minyak.

Adapun neraca transaksi berjalan merupakan data yang merekam transaksi perdagangan barang dan jasa antarpenduduk Indonesia dan bukan penduduk Indonesia, dan juga pendapatan dari modal yang diivestasikan ke negara lain. Jika neraca transaksi berjalan masih defisit maka Indonesia terbantu oleh transaksi modal dan finansial yang mencatat surplus 5,9 miliar dolar AS karena meningkatnya surplus investasi langsung dan investasi portofolio.

Dengan surplus transaksi modal dan finansial yang lebih besar dari defisit transaksi berjalan, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II 2017 mencetak surplus sebesar 0,7 miliar dolar AS.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement