Rabu 25 Jan 2017 19:54 WIB

Jakarta Dinilai Layak Jadi Pusat Keuangan Syariah Indonesia

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih
Ekonomi syariah (ilustrasi)
Foto: Islamitijara.com
Ekonomi syariah (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Rencana pemerintah menjadikan Jakarta sebagai pusat keuangan syariah dinilai tepat. Saat ini dari sebanyak 20 juta pemegang rekening, hampir sebanyak 80 persen berada di Jakarta.

Pengamat Ekonomi Syariah Adiwarman Karim menuturkan, selain faktor tersebut, saat ini Indonesia menjadi kiblat dunia dalam empat hal, yakni islamic fashion, islamic food, islamic fun and entertainment serta islamic finance.

Indonesia menjadi kiblat islamic fashion karena seperti yang diketahui, penduduk Indonesia mayoritas muslim dan sebagian besar penduduk wanita memakai jilbab.

"Dibandingkan Arab, kita lebih banyak yang pake hijab," ujar Adiwarman Karim di diskusi Jakarta Sebagai Pusat Keuangan Syariah di Jakarta, Rabu (25/1).

Untuk islamic food, saat ini makanan di Indonesia sebanyak 85 persennya halal. Tidak seperti di Malaysia yang hanya 60 persen makanya mereka memerlukan sertifikat halal. Namun saat ini sertifikasi halal Indonesia juga sudah menjadi kiblat dunia.

Ekonomi Syariah Berkembang di Pusat Perdagangan

"Sebanyak 38 negara seluruh dunia mengikuti standar halal indonesia," kata Adiwarman.

Adapun islamic fun and entertainment, lanjut Adiwarman, hanya di Indonesia yang memiliki karaoke islami, spa islami, renang islami. Bahkan berbagai film religi juga sering sekali tayang di layar kaca dan layar lebar. Lagu-lagu Maher Zein pun, kata dia lebih laku di Indonesia dibandingkan di Timur Tengah.

Sementara itu untuk islamic finance, saat ini jumlah nasabah perbankan syariah ada sebanyak 20 juta orang. Asuransi syariah, reksadana syariah, dan lembaga keuangan lainnya sekitar 30 juta orang. Untuk itu ia menilai tepat untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat keuangan syariah.

Saat ini rencananya Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) tengah menyusun kawasan ekonomi khusus untuk membentuk pusat keuangan syariah di Jakarta.

Sementara itu Ketua V Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Muhammad Syakir Sula menilai, untuk membangun pusat keuangan syariah di Jakarta, pemerintah provinsi harus siap.

"Seperti waktu kita ke Jepang dan Thailand. Dimana-mana disebutkan restoran halal atau tidak, lalu ada petunjuk mushola dimana. Di Jakarta baiknya juga seperti itu," ujar Syakir Sula.

Sebab, meskipun Indonesia dalam hal ini Jakarta, berpenduduk mayoritas muslim, namun masih banyak makanan yang tidak jelas halal atau tidaknya. Bahkan masih banyak juga tempat-tempat yang menjual minuman keras. Selain itu, pusat keuangan secara keseluruhan berada di Jakarta, termasuk syariah. Untuk itu, sudah tepat apabila Jakarta dijadikan sebagai pusat keuangan syariah.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement