Kamis 12 Jan 2017 09:23 WIB

Trump Kenakan Pajak Besar Bagi Perusahaan yang Pindahkan Produksi

Red: Nur Aini
Presiden AS terpilih, Donald Trump
Foto: AP
Presiden AS terpilih, Donald Trump

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS terpilih Donald Trump akan memberlakukan "pajak perbatasan besar" pada perusahaan-perusahaan yang memindahkan produksinya ke luar negeri, dan menjual kembali barang-barangnya ke Amerika Serikat.

"Bila Anda ingin memindahkan pabrik Anda ke Meksiko atau tempat lain, dan Anda ingin memecat semua pekerja Anda dari Michigan hingga Ohio dan semua tempat-tempat yang saya menang, untuk alasan yang baik, itu tidak akan terjadi seperti itu lagi," Trump mengatakan pada konferensi pers pertamanya di New York, sejak memenangkan pemilihan presiden pada November.

"Akan ada pajak perbatasan besar pada perusahaan-perusahaan yang meninggalkan (AS)," kata Trump, tapi menolak untuk memberikan rincian lebih lanjut dari pajak perbatasan yang akan menjadi pajak impor dan menciptakan insentif bagi produksi dalam negeri. "Anda punya banyak tempat, Anda dapat memindahkan, dan saya tidak peduli, selama itu di Amerika Serikat, perbatasan Amerika Serikat," katanya.

Trump telah menekan Ford, General Motors, Toyota dan perusahaan-perusahaan lainnya untuk membawa pabrik-pabrik mereka kembali ke Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir. Ia mengancam untuk memberlakukan pajak perbatasan pada mereka jika mereka mengalihkan produksi ke Meksiko.

Namun para pejabat perdagangan AS telah memperingatkan bahwa pajak seperti itu mungkin akan menghadapi tantangan di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan juga membawa perusahaan-perusahaan AS keluar dari rantai pasokan global yang sekarang penting dalam bersaing secara internasional. "Kalau mendiskriminasikan impor, itu akan meningkatkan kekhawatiran perdagangan internasional dan, tentu saja, memiliki dampak yang signifikan pada setiap konsumen atau bisnis yang bergantung pada impor sebagai masukan," Perwakilan Perdagang AS Michael Froman mengatakan pada Selasa dalam sebuah wawancara dengan Financial Times.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement