Kamis 13 Oct 2016 19:56 WIB

Kuartal III 2016, Laba BNI Tumbuh Rp 7,72 triliun

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Muhammad Fakhruddin
Dirut BNI Achmad Baiquni memaparkan Kinerja BNI Kuartal I 2016 di Jakarta, Selasa (12/4).
Foto: Antara/Sigid Kurniawan
Dirut BNI Achmad Baiquni memaparkan Kinerja BNI Kuartal I 2016 di Jakarta, Selasa (12/4).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI membukukan laba sebesar Rp 7,72 triliun atau tumbuh 28,7 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Kuartal III 2016. Kenaikan laba ini ditopang oleh kinerja penyaluran kredit BNI yang tumbuh sebesar Rp 372,02 triliun atau meningkat 21,1 persen yoy.

Direktur Utama BNI, Achmad Baiquni mengatakan, kinerja penyaluran kredit BNI tumbuh stabil sejak kuartal I, sehingga mendorong pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 15,0 persen.

"Pertumbuhan laba yang cukup kuat sebesar 28,7 persen tersebut terbentuk di tengah kondisi perekonomian yang menantang, dimana perekonomian pada tahun 2016 diprediksi hanya tumbuh 5,1 persen, dan di saat pertumbuhan laba bersih di industri perbankan hanya mampu mencapai 9,8 persen," ujar Achmad Baiquni saat paparan Kinerja Keuangan BNI Kuartal III Tahun 2016 di Kantor Pusat BNI 46, Kamis (13/10).

Baiquni menambahkan, laba BNI juga tumbuh berkat pendapatan berbasis komisi (fee based income) yang meningkat 20,0 persen. Selain itu, laba bersih BNI ditopang oleh Pendapatan Bunga Bersih (NII) yang naik 15,0 persen dari Rp 19,02 triliun pada Kuartal III 2015 menjadi Rp 21,87 triliun pada Kuartal III 2016.

"Hal tersebut menunjukkan peningkatan kualitas kredit BNI dengan tetap menjaga net interest margin (NIM) di level 6,2 persen,"kata Baiquni.

Laba juga ditopang oleh Pendapatan Non-Bunga Kuartal III 2016 yang naik 20,0 persen, dari Rp 5,19 triliun pada Kuartal III 2015 menjadi Rp 6,24 triliun pada Kuartal III 2016, yang didukung oleh kenaikan fee based income dari trade finance, pengelolaan rekening, dan bancassurance. 

Meski tumbuh hingga di atas pertumbuhan laba tahun lalu yang sebesar 21,15 persen, namun pihaknya hanya menargetkan laba tumbuh kurang dari 20 persen hingga akhir tahun 2016. Hal ini disebabkan oleh perseroan yang masih mewaspadai beberapa debitur kredit sehingga ada kemungkinan menambah Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN).

Saat ini CKPN perseroan berada di posisi 143 persen. Apabila restrukturisasi kredit berhasil, perseroan tidak perlu menambah CKPN. "Saat ini coverage ratio (CKPN) berada di level 143 persen. Target tahun ini kita jaga di level 143-145 persen," kata Baiquni.

Direktur Konsumer BNI Anggoro Eko Cahyo mengatakan, pihaknya menerapkan beberapa strategi untuk pertumbuhan kredit. Hal ini terbukti dari pertumbuhan kredit perseroan yang tumbuh di atas industri yang mencapai 7,6 persen per Agustus 2016.

Strategi tersebut antara lain, pertama, menggali potensi pasar pembiayaan BUMN dengan fokus pada proyek infrastruktur dan sektor industri yang memiliki risiko rendah dan terkontrol. Kedua, mengoptimalkan jaringan dan outlet untuk mampu menggarap potensi pasar yang ada. Ketiga, menggali potensi supply chain debitur korporasi.

"Penyaluran kredit BNI ke Sektor Business Banking masih menjadi yang terbesar dengan komposisi 73,0 persen dari total kredit atau sebesar Rp 271,68 triliun. Aliran kredit ke Sektor Business Banking ini tumbuh 23,5 persen yoy,"kata Anggoro.

Pada sektor Business Banking ini, kredit BNI disalurkan ke segmen Korporasi (sebanyak 24,3 persen), kredit BUMN (19,1 persen), lalu ke segmen Menengah (16,3 persen), dan segmen Kecil (sebesar 13,3 persen). 

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang terhimpun per Kuartal III tahun 2016 mencapai Rp 401,88 triliun atau meningkat 15,0 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2015. Komponen dana murah (current account saving account/ CASA) masih mendominasi, yaitu sebesar 59,7 persen dari total DPK. Sehingga Cost of Fund BNI dapat ditahan di level 3,1 persen, sehingga mampu  menjaga kondisi NIM cukup stabil.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement