Selasa 13 Sep 2016 16:41 WIB

Pengusaha Saudi Rugi karena Daya Beli Jamaah Menurun

Jamaah haji sedang membeli makanan dan minuman di sebuah kedai yang terletak di pinggiran Masjidil  Haram, Makkah, Ahad (30/9). Kawasan itu nantinya akan dibongkar untuk proyek perluasan Masjidil Haram.
Foto: Heri Ruslan/Republika
Jamaah haji sedang membeli makanan dan minuman di sebuah kedai yang terletak di pinggiran Masjidil Haram, Makkah, Ahad (30/9). Kawasan itu nantinya akan dibongkar untuk proyek perluasan Masjidil Haram.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKKAH -- Pengusaha jasa boga Arab Saudi pada tahun ini mederita kerugian akibat penurunan jumlah dan daya beli jamaah haji, yang membawa sedikit uang untuk dibelanjakan.

Pemerintah Arab Saudi menyatakan jamaah untuk tahun ini sekitar 1,86 juta orang. Sebanyak 1,3 juta di antaranya datang dari luar negeri. Jumlah itu jauh menurun jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, yang pernah mencapai angka tiga juta orang.

Kepala Panitia Nasional untuk Haji dan Umrah Marwan Abbas Shaaban mengatakan jumlah jamaah dari luar negeri pada tahun ini turun 20 persen, sementara dari dalam negeri anjlok 50 persen. Akibatnya, usaha terkait haji turun sekitar 50 persen.

Penjual perhiasan emas di Makkah Ali al-Hirabi mengatakan mereka yang menunaikan ibadah haji tahun ini relatif hanya mempunyai sedikit uang untuk dibelanjakan. "Mereka datang, tapi situasinya tidak seperti pada masa-masa damai. Peperangan di negara-negara Arab adalah masalah utamanya," kata dia.

Arab Saudi dan banyak negara-negara sekitar kini tengah mengalami masa sulit akibat jatuhnya harga minyak dunia. Mereka harus memotong anggaran negara, menurunkan upah, serta mengurangi belanja perang di Timur Tengah.

Pejabat setempat memberikan alasan yang berbeda-beda mengenai turunnya jamaah haji ini. Salah satu alasan yang jelas adalah boikot dari Iran yang memprotes standar keamanan dari Arab Saudi untuk para jamaah. Mereka menunjuk insiden saling injak pada tahun lalu yang menewaskan setidaknya 2.070 orang.

Shabaan mengatakan Iran biasanya menyumbang tujuh persen dari pada jamaah asing. Dengan demikian, absennya mereka sebetulnya tidak terlalu berpengaruh besar.

Dia mengatakan faktor lain ada masih dilakukannya pembangunan di sekitar Makkah untuk meningkatkan kapasitas di masa mendatang. Hal ini mengakibatkan berkurangnya ruangan bagi jamaah tahun ini.

"Selama tiga tahun terakhir, kami terus mengurangi jumlah jamaah haji karena ekspansi dua Masjid Suci dan perbaikan infrastruktur besar-besaran," kata dia sambil menambahkan beberapa faktor lain seperti kondisi politik di sejumlah negara dan situasi ekonomi.

Perang di Suriah, Irak, Yaman, dan Libya yang berkontribusi pada penurunan jumlah jamaah pada tahun-tahun lalu kini terus memburuk. Sebagian besar warga di negara-negara tersebut kini terjebak di tengah kepungan perang.

"Tentu saja ada dampak pada perekonomian Arab Saudi, namun sektor swasta berkesempatan besar untuk berinvestasi sekarang," kata Wali Kota Makkah, Osama bin Fadl Al-Bar.

Dia mengatakan perluasan Masjid Agung Makkah dan hotel-hotel di sekitar akan memicu ekonomi pada masa mendatang. Perluasan itu akan membuat Makkah mampu menampung 3,7 juta jamaah haji pada 2020 dan 6,7 juta jamaah pada 2042.

Sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak, pemerintah menargetkan kunjungan umrah sebanyak 30 juta dalam setahun pada 2030 mendatang, naik dari tahun ini yang hanya delapan juta.

Ulama senior Arab Saudi, Sheikh Abdullah Bin Sulaiman al-Manea mengkritik penekanan berlebihan pada faktor ekonomi ibadah haji dan umrah. "Kewajiban haji tidak boleh berubah menjadi tempat perdagangan dan mencari keuntungan," kata dia kepada surat kabar Okaz.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement