Selasa 26 Jul 2016 16:14 WIB

Menteri ESDM Sebut Smelter Freeport Terkendala Harga Komoditas

Rep: Sapto Andika Candra/ Red: Nur Aini
Smelter (Ilustrasi)
Smelter (Ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pembangunan proyek fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral tambang oleh PT Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur dinilai tidak menunjukkan progres yang begitu positif. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral hingga saat ini masih mengkaji berapa progres yang dicapai Freeport dalam membangun smelter Gresik.

Menteri ESDM Sudirman Said menjelaskan, lambatnya progress pembangunan smelter ini bukan semata karena Freeport tak patuh. Sebagai sebuah badan usaha, ujarnya, banyak faktor yang memengaruhi aksi korporasi termasuk yang berkaitan dengan pembangunan smelter. Hal ini, dinilainya, tak lepas dari sikap perusahaan asal AS tersebut yang masih menunggu kepastian perpanjangan kontrak karya.

"Karena smelter perluasan Gresik itu hanya visible kalau pasokan bahan mentah ada. Pasokan bahan mentah ada kalau tambang bawah tanah dibangun. Karena yang atas tanah sudah mau habis. Tambang bawah tanah dibangun kalau sudah ada kepastian masa depan mau gimana. Ini kan satu rangkaian yang mesti dipahami masyarakat," kata Sudirman saat ditemui usai rapat kerja dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Selasa (26/7).

Kegiatan Freeport juga dinilai ikut terdampak oleh rendahnya harga komoditas tambang termasuk tembaga. Sudirman mengaku bahwa pemerintah berupaya untuk merumuskan regulasi yang tidak terlalu mencekik industri di kala rendahnya harga komoditas, tetapi di satu sisi tidak menggangu penerimaan negara. Pemerintah, kata Sudirman, tidak membunuh industri yang justru bisa berakibat pada semakin lambatnya ekonomi nasional.

"Kita selalu ingatkan. Terus ingatkan kontrak ingatkan aturan. Segala situasi kita sampaikan. Risiko kita sampaikan. Kewajiban kita sebagai regulator mengingatkan supaya seluruh badan usaha ikuti aturan kita," kata Sudirman.

Progres pembangunan smelter di Gresik sebetulnya memiliki arti penting bagi Freeport. Alasannya, pembangunan smelter menjadi salah satu pertimbangan pemerintah untuk mengeluarkan izin ekspor konsentrat bagi Freeport. Agustus mendatang, periode izin ekspor harus diperpanjang lagi oleh Freeport. Per Januari tahun ini, progress pembangunan smelter Gresik masih 14 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement