Jumat 10 Jun 2016 15:49 WIB

Pedagang Pilih Jual Daging Segar Dibandingkan Daging Impor Beku

Rep: Bowo Pribadi/ Red: Nur Aini
Daging Sapi Impor
Foto: Republika-Wihdan Hidayat
Daging Sapi Impor

REPUBLIKA.CO.ID,SEMARANG --  Kabar bakal beredarnya daging sapi beku di pasaran tak membuat para penjual daging sapi di Kota Semarang merasa risau. Mereka meyakini, masyarakat selaku konsumen daging sapi tetap akan memilih daging sapi segar, meskipun harganya relatif lebih mahal.

"Bagaimanapun daging sapi segar tetap diminati pembeli di sini," ungkap Untung (49 tahun), penjual daging sapi di Pasar Peterongan, Kota Semarang, Jumat (10/6).

Sebagai penjual daging sapi, ia mengaku sama sekali tak berminat untuk menjual daging sapi impor yang didatangkan dalam kondisi beku tersebut.

Bahkan ia mengaku tak tertarik meski harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan daging sapi segar lokal. Sebab belum tentu daging beku tersebut bisa diterima oleh konsumen atau pelanggan selama ini.

Menurutnya ada beberapa pertimbangan konsumen untuk bisa menerima daging beku tersebut. Salah satunya tentu masalah kesehatan dan kelayakan. Boleh jadi daging tersebut berasal dari negara yang cara pemotongan dan pengemasannya lebih maju dibandingkan dengan pemotongan di negara ini.

Namun semua itu bukan jaminan untuk bisa gampang diterima."Beda sama daging sapi lokal, selama ada surat keterangan kesehatan daging (SKKD) berarti layak dibeli," ujarnya.

Untung juga menambahkan, saat ini kondisi harga daging sapi memang mencapai Rp 110 ribu per kilogram. Namun ia juga tidak harus kehilangan omset.

Kalau pembelian hanya menurun pada kisaran 10 persen, menurutnya belum menjadi persoalan yang serius. Ia bahkan sangat yakin daya beli akan kembali menguat menjelang Lebaran nanti. "Bahkan berapapun harganya tetap dibeli, seperti Lebaran tahun lalu," ujarnya.

Senada dengan Untung, penjual daging sapi di pasar Babadan, Kabupaten Semarang, Sutarmi (58 tahun) juga lebih yakin dengan menjual daging sapi lokal yang lebih segar. Hanya saja, ia justru mencemaskan ulah sebagian pedagang yang ingin memanfaatkan momentum lonjakan permintaan masyarakat, dengan cara- cara yang nakal. Hal itu seperti masih menjual daging sapi glonggongan atau daging sapi 'oplosan' daging celeng atau babi. Sebab ulah seperti inilah yang sebenarnya sangat merugikan.

Ia juga sepakat jika masyarakat atau pelanggannya pasti lebih memilih daging sapi lokal ketimbang daging beku yang dimasukkan untuk mengendalikan harga. "Daging sapi kalau tidak segar kan kurang marem (puas) bagi masyarakat kita," ujarnya.

Baca juga: Pengimpor Ragu Daging Sapi Impor Bisa Turunkan Harga Jual

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement