Sabtu 14 May 2016 17:15 WIB

Keberhasilan BMT Dinilai Bisa Jadi Referensi Negara OKI

Rep: Wilda Fizriyani/ Red: Nur Aini
Karyawati melayani nasabah di koprasi simpan pinjam syariah baitul maal wa tamwil (BMT) Daarul Qur'an, Pal Batu, Jakarta, Senin (11/1).
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Karyawati melayani nasabah di koprasi simpan pinjam syariah baitul maal wa tamwil (BMT) Daarul Qur'an, Pal Batu, Jakarta, Senin (11/1).

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR -- Baitul Maal wat Tamwil (BMT) dianggap bisa menjadi referensi negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) dalam mengembangkan ekonomi mikro syariah. Apalagi keberhasilan yang telah diperoleh ini dinilai memiliki potensi mengurangi kemiskinan di masyarakat.

 “BMT berada di tengah masyarakat yang berpendapatan rendah tapi malah kuat sekali perkembangannya, ” kata  Penanggung Jawab Seminar on Islamic Microfinance for Poverty Alleviation in OIC Member Countries, Irfan Syauqi Beik kepada wartawan di IPB Darmaga, Bogor, Sabtu (14/5).

Hal ini mengartikan bawah masyarakat berpendapatan rendah tidak selalu tak memiliki potensi perkembangan keuangan. Anggapan tersebut dinilai jelas terpatahkan dengan adanya perkembangan BMT di tengah masyarakat ini. Kondisi demikian dinilai mampu mendorong produktivitas masyarakat berpendapatan rendah.

Menurut Irfan, ekonomi syariah mempunyai karakter baik dan sesuai untuk dikembangkan di masyarakat demikian. Dengan kata lain, Indonesia memang memiliki daya tarik kuat terkait pengalaman keuangan syariah ini. Untuk itu, saling berbagi pengalaman dan mempelajari di forum internasional di antara negara OKI sangat perlu diterapkan.

Forum internasional ini, kata Irfan, sangat dibutuhkan oleh negara OKI lainnya. Sebab, selama ini mereka kurang memperoleh informasi ihwal adanya praktik terbaik dari pengelolaan keuangan syariah seperti BMT.

Director General of.Islamic Research and Training Institute (IRTI), Islamic Development Bank (IDB), Professor Datuk Mohd Azmi Omar menerangkan, negara OKI memang perlu terus belajar untuk saling mentransfer ilmu. “Terlebih tentang ekonomi mikro syariah dan keuangan syariah,” kata Azmi dalam Seminar on Islamic Microfinance for Poverty Alleviation in OIC Member Countries. Selain bisa saling mempelajari, pertemuan dan diskusi bersama dengan negara OKI mampu menguatkan korporasi.

Menurut Azmi, dunia saat ini berada dalam masa kompetisi yang cukup sengit. Untuk bisa bersaing, maka pengembangan ekonomi menjadi aspek yang perlu diperhatikan. “Apalagi perkembangan ekonomi negara OKI kurang baik. Oleh sebab itu, penguatan ekonomi syariah jadi salah satu cara untuk menghadapinya,” kata Azmi.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement