Selasa 26 Apr 2016 09:50 WIB

BKPM Tarik Minat Investor Furnitur dari Cina

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nidia Zuraya
Pengunjung melihat salah satu produk furnitur saat pameran
Foto: Republika/Agung Supriyanto
Pengunjung melihat salah satu produk furnitur saat pameran "Exclusive Furniture Show 2015" di Jakarta Convention Center, Jakarta, Kamis (15/10).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani akan menarik minat investor Cina di sektor furnitur. Menurutnya, beberapa perusahaan furnitur Cina berencana melakukan relokasi pabrik ke Indonesia dan potensi ini patut dikembangkan.

"Realisasi investasi di industri furnitur bernilai 190 juta dolar AS, dan melonjak hampir delapan kali lipat dalam lima tahun," ujar Franky dalam keterangan tertulisnya, Selasa (26/4).

Menurut Franky, sejak 2010 BKPM mencatat realisasi investasi industri furnitur dari Cina sebesar 5,3 juta dolar AS. Cina merupakan sumber investasi asing kelima terbesar di sektor ini setelah Taiwan, Jepang, Korea Selatan dan Singapura. Menurut Franky, nilai investasi Cina tersebut masih jauh lebih kecil dari potensi yang ada di Indonesia. 

"Kita ketahui bersama, Cina berpengalaman panjang dalam mengembangkan keterampilan dan teknologi, hingga industri furniturnya berhasil meraih lebih dari setengah pasar global," kata Franky.

Secara umum, industri furnitur di Indonesia terbagi atas dua klaster. Pertama, industri furnitur berbasis kayu. Klaster ini terpusat di Pulau Jawa, termasuk Jepara dan Sukabumi, serta di Pulau Bali. Kedua, industri furnitur berbasis rotan yang terutama berkembang di Cirebon. Sementara bahan baku rotan banyak dihasilkan di Pulau Kalimantan dan Sumatra.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement