Jumat 13 Nov 2015 13:33 WIB
Usaha Rakyat

Inspirasi Bisnis Bambu, Beli Rp 15 Ribu Dijual Rp 1,5 Juta

Rep: C10/ Red: Nur Aini
Harry Anugrah Mawardi, pendiri Amygdala Bamboo sedang memperlihatkan hasil desainnya yang telah dibuat kerajinan tangan berbahan dasar bambu di workshop di Kampung Ciloa, Desa Mekarsari, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Kamis (12/11).
Foto: C10
Harry Anugrah Mawardi, pendiri Amygdala Bamboo sedang memperlihatkan hasil desainnya yang telah dibuat kerajinan tangan berbahan dasar bambu di workshop di Kampung Ciloa, Desa Mekarsari, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Kamis (12/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Banyak pengrajin di Jawa Barat yang mahir menciptakan berbagai bentuk anyaman dan perabot rumah tangga dari bahan baku bambu. Namun, hasil kerajinan mereka dijual dengan harga yang relatif murah. Hal ini berbeda dengan apa yang dilakukan seorang pengusaha muda, lulusan ITB tahun 2009 jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Harry Anugrah Mawardi (29 tahun).

Ia berhasil meningkatkan daya jual kerajinan bambu hingga ratusan kali lipat. Satu buah pohon bambu jenis awi tali harganya Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu. Setelah diolah dengan alat yang sederhana, satu pohon bambu bisa menjadi sepuluh buah produk hasil kerajinan tangan.

"Dari satu pohon bambu dengan harga Rp 12 ribu setelah jadi produk hasil kerajinan tangan harganya bisa sampai jutaan rupiah," kata Harry. 

Contohnya, untuk membuat sepuluh buah rumah lampu ukuran kecil diperlukan bahan baku satu batang pohon bambu. Setelah jadi, satu rumah lampu dijual dengan harga Rp 150 ribu. Satu pohon bambu dengan harga kurang dari Rp 15 ribu bisa dijual dengan harga Rp 1,5 juta setelah dijadikan kerajinan tangan. 

Usaha yang digeluti Harry awalnya berasal dari penelitian di kampusnya di ITB. Ia sering melakukan penelitian untuk mengembangkan desain kerajinan bambu di wilayah Jawa Barat. Tapi, penelitian tersebut tidak membuatnya puas. Sebab hasil akhir dari penelitiannya hanya sebatas menjadi paper dan prototype. 

Harry menegaskan, hal yang dilakukannya seperti tidak ada dampak langsung dan nyata kepada para pengrajin bambu. Ia menjelaskan, meski hasil penelitian dapat menciptakan banyak bentuk dan desain baru. Tapi, ia menilai kalau hasil itu  tidak bisa dijual akan percuma. Itu membuktikan desain yang dibuat dari hasil penelitiannya tidak benar. 

"Karenanya saya mencoba memasarkan sendiri hasil dari desain-desain baru tersebut," ujarnya.

Harry tidak sendirian mengembangkan bisnis kerajinan bambo. Pada akhir tahun 2013 Harry memulai bisnisnya bersama Utang Mamad (45 tahun), warga asli Kampung Ciloa, Desa Mekarsari, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut. Di Kecamatan Selaawi warganya sudah turun-temurun menjadi pengrajin bambu. Hasil produksinya berupa perabotan rumah tangga dan sangkar burung.

Harry mencoba membuat desain-desain baru dari bahan baku bambu yang relatif murah dan persediaannya cukup banyak. Sementara, Utang menjadi pengrajinnya. Pada awal, 2014 usahanya dinamai Amygdala Bamboo. Menurut Harry, di Indonesia baru ada tiga brand yang fokus pada kerajinan dari bahan baku bambu. (Bagian 1 dari 2)

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement