Kamis 04 Jun 2015 20:49 WIB

2018, RI Miliki 2.000 Layar Bioskop

Bisnis layar lebar yang menggairahkan membuat pengusaha bioskop berniat membuka terus bioskop di seluruh Indonesia.
Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang
Bisnis layar lebar yang menggairahkan membuat pengusaha bioskop berniat membuka terus bioskop di seluruh Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mengungkapkan pada 2018 Indonesia akan memiliki 2.000 layar bioskop seiring bergairahnya bisnis bioskop di Tanah Air belakangan ini.

Ketua Umum GPBSI Djonny Syafruddin di Jakarta, Kamis (4/6), menyatakan sejumlah pemain baru saat ini gencar melakukan ekspansi membangun bioskop baru yang mana sampai bulan awal 2016, jumlah layar bioskop di Indonesia menembus angka 1.000 layar. "Melalui teknologi yang baru, usaha bioskop sedang bangkit. Semua operator melakukan penambahan layar, bukan hanya pengusaha bioskop besar, bioskop yang kecil juga ikut bergairah," katanya.

Menurut dia, bertambahnya jumlah layar bioskop merupakan angin segar bagi industri film Indonesia karena kesempatan bagi film-film Indonesia berkualitas untuk diputar di bioskop semakin terbuka lebar. "Bahkan kami menunggu realisasi pengusaha bioskop untuk menambah 1.000 layar lagi selama dua tahun ke depan," ujar Djonny Syafruddin.

Dua pemain baru Blitzmegaplex dan Cinemaxx, tambahnya, menunjukkan agresivitas dan tekad untuk menambah lebih dari 1.000 layar. Jika itu terjadi, maka pada 2018, jumlah layar bioskop di Indonesia akan mencapai angka 2.000 layar.

Blitz yang dimiliki raksasa bisnis hiburan CJ (Korea) berencana membangun sejumlah bioskop baru di delapan lokasi di Surabaya, Bandung, Tangerang, Karawang, Cirebon, Jakarta, dan Yogyakarta, dengan total investasi sebesar Rp 240 miliar. "Saat ini kami punya 93 layar di 12 lokasi. Sampai akhir tahun, kami targetkan sudah punya 150 layar dengan di 20 lokasi," kata Direktur Public Relations dan Human Resources Blitzmegaplex Ferdiana Yulia Sunardi.

Sementara itu jaringan bioskup Cinemaxx (Lippo Group) menyiapkan dana Rp 6 triliun untuk membangun 1.000 layar bioskop di 85 kota di Indonesia dalam lima tahun ke depan. CEO Cinemaxx, Brian Riady, menyatakan perusahaannya bertekad menjadi jaringan bioskop terbesar dan paling disukai di Indonesia yang mana sampai saat ini, memiliki 51 layar di 10 lokasi, jumlah ini hampir dua kali lipat ketika mereka pertama kali memperkenalkan diri di tahun 2014.

Dengan dibukanya 6 layar Cinemaxx di Lippo Plaza Yogyakarta hari ini (4/6), jumlah layar di Indonesia menjadi 1.002 layar di 193 lokasi. Saat ini jumlah layar bioskop terbanyak masih dipegang oleh jaringan Cinema XXI yang memiliki 780 layar pada 146 lokasi di 33 kota di Indonesia dan diperkirakan akan bertambah menjadi 870 layar di akhir 2015.

"Kami menyambut sangat baik kehadiran pemain-pemain baru dan berharap mereka membuka bioskop di daerah-daerah yang selama ini belum tersentuh bioskop," kata Corporate Secretary Cinema XXI Catherine Keng. Selain tiga operator besar tersebut, masih ada bioskop yang dikelola oleh Platinum, New Star, dan sejumlah bioskop independen yang memiliki sekitar 80 layar.

Menurut Djonny Syafruddin, bioskop independen atau bioskop non-jaringan juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. "Beberapa kota yang dulunya tidak ada bioskop kini sudah mulai ada beberapa layar," katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, pertumbuhan bisnis bioskop sangat tergantung kepada tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat, terutama kelas menengah, di suatu negara. Jika ekonomi membaik dan pendapatan masyarakat meningkat, industri bioskop dengan sendirinya akan meningkat pula.

Dikatakannya, perbandingan jumlah bioskop dengan penduduk di negara yang ekonominya maju pada umumnya lebih besar dibandingkan di negara berkembang. Malaysia, misalnya, memiliki jumlah layar bioskop yang hampir sama dengan Indonesia yakni 920 layar, padahal jumlah penduduk Malaysia hanya seperdelapan dari Indonesia.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Terkait
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement