REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Badan Pusat Statistik melaporkan nilai tukar rupiah hanya melemah terhadap dolar AS. Sedangkan terhadap tiga mata uang yang disurvei yakni euro, yen, dan dolar Australia, rupiah tercatat menguat.
Kepala BPS Suryamin mengatakan perkembangan nilai tukar tersebut berdasarkan periode Maret 2015 minggu kedua terhadap Februari 2015 minggu keempat. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terdepresiasi 2 persen atau turun 257,42 persen.
Sedangkan terhadap dolar Australia rupiah menguat 0,66 persen atau 66,23 poin. Terhadap yen menguat 0,11 persen (0,12 poin), sementara terhadap euro menguat 3,50 persen (509,97 poin).
Jadi, kata Suryamin, secara umum pelemahan rupiah hanya terhadap dolar AS. Tapi dengan tiga mata uang yang paling banyak diperdagangkan di Indonesia yakni euro, yen, dan dolar Australia, rupiah tidak memiliki masalah. "Bisa dibilang kita hanya bermasalah terhadap dolar AS," kata Suryamin dalam paparannya di kantor BPS, Senin (16/3).
Akan tetapi, kata Suryamin, rupiah mengalami pelemahan terhadap keempat mata uang tersebut pada periode Februari 2015 minggu keempat terhadap Januari 2015 minggu keempat.
Pada periode tersebut, rupiah terdepresiasi 2,95 persen terhadap dolar AS, 1,13 persen terhadap dolar Australia, 2,57 persen terhadap euro, dan 2,25 persen terhadap yen. "Dengan fakta ini, memang benar bahwa dolar AS sedang mengalami penguatan terhadap hampir seluruh mata uang," ucap dia.
Suryamin menjelaskan survei valas ini dilakukan di 34 provinsi di seluruh Indonesia dengan sampel sebanyak 137 perusahaan atau pedagang valuta asing (money changer) yang berlokasi di ibukota provinsi atau kota/kabupaten yang melakukan transaksi mata uang asing. Survei dilakukan setiap minggu pada hari Rabu.
"Penyajian data ini merupakan rata-rata di 34 provinsi," kata Suryamin.