Selasa 03 Mar 2015 21:02 WIB

BTPN Bukukan DPK Rp 53,3 Triliun

Rep: C87/ Red: Satya Festiani
 Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN)
Foto: Antara
Bank Tabungan Pensiunan Negara (BTPN)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) membukukan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp 53,3 triliun per 31 Desember 2014. Perolehan DPK tumbuh 2 persen dari periode yang sama tahun 2013 yang mencapai Rp 52,2 triliun.

 

Direktur Utama BTPN Jerry Ng mengatakan, dilihat dari pengumpulan DPK dan penyaluran kredit, BTPN mencatat tingkat rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio( LDR) mencapai 97 persen. Namun, apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi dan pinjaman bilateral, rasio likuiditas BTPN berada di level 84 persen. 

 

Pendanaan yang bersumber dari pinjaman bilateral dan obligasi tercatat sebesar Rp 8,2 triliun, meningkat 29 persen dari periode 2013 sebesar Rp 6,36 triliun. Diversifikasi sumber pendanaan menjadi salah satu langkah BTPN untuk meringankan biaya dana (cosf of fund).

 

“Pada 2014 total funding BTPN tumbuh 5 persen (yoy). Jika memasukkan komponen ekuitas, rasio likuiditas kami sebesar 71 persen. Rasio ini menunjukkan likuiditas kami masih sangat kuat dan sehat,” kata Jerry di Jakarta, Selasa (3/3).

 

Menurutnya, BTPN akan tetap melakukan diversifikasi sumber-sumber pendanaannya, salah satunya pada 27 Februari 2015 BTPN memperoleh pinjaman dari IFC dalam mata uang Rupiah senilai ekuivalen 300 juta dolar AS. Sebesar 75 juta dolar AS di antaranya disediakan oleh IFC, sementara sisanya sebesar 225 juta dolar AS IFC memobilisasi dana dari  Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC).

 

“Pertumbuhan yang cukup moderat di sisi kredit dan DPK, mendorong peningkatan aset BTPN sebesar 8 persen (yoy) dari Rp 69,7 triliun pada Desember 2013 menjadi Rp 75 triliun pada Desember 2014,” imbuhnya.

 

Adapun rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 23,3 persen, jauh di atas ambang batas ideal yang ditentukan regulator. Sementara itu, laba bersih setelah pajak (NPAT) tahun 2014 mencapai Rp 1,85 triliun, lebih rendah 13 persen dari periode yang sama Desember 2013 sebesar Rp 2,13 triliun. Menurutnya, kenaikan suku bunga acuan sejak semester II 2013 mengerek bunga deposito dan terus berlanjut di 2014. Hal itu dinilai berpengaruh terhadap cost of fund perusahaan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement