Kamis 12 Feb 2015 14:57 WIB

OJK: Sektor Properti Dorong Penguatan IHSG

Rep: c87/ Red: Satya Festiani
Seorang melintas di depan layar Grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (4/8).(Republika/Prayogi)
Foto: Republika/Prayogi
Seorang melintas di depan layar Grafik Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (4/8).(Republika/Prayogi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kondisi pasar saham cenderung menguat dengan fluktuasi yang relatif moderat sepanjang 2014. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) menguat seiring perbaikan persepsi risiko.

Kepala Departemen Pengembangan Kebijakan Strategis OJK Imansyah mengatakan, kondisi Pasar Saham selama Januari 2015 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat. Penguatan tersebut didorong oleh penguatan di sektor properti, barang konsumsi, aneka industri, perdagangan dan keuangan.

"Peningkatan terbesar ada pada sektor properti namun di sisi lain penurunan index terjadi pada  sektor pertanian, industri dasar, infrastruktur dan pertambangan," jelas Imansyah dalam konferensi pers paparan evaluasi perkembangan dan profil risiko industri jasa keuangan tahun 2014 di kantor pusat OJK, Jakarta, Kamis (12/2).

Pelemahan index sektor pertanian dan pertambangan, lanjutnya, dipengaruhi oleh berlanjutnya tren penurunan harga komoditas dunia. Posisi Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana, per akhir Januari 2015 meningkat 2,40 persen atau sebesar Rp 5,8 triliun dibadingkan dengan bulan sebelumnya. Peningkatan tersebut berasal dari net subscription sebesar Rp 3,8 triliun dan kenaikan nilai sebesar Rp 2 triliun.

Sementara itu, nilai investasi industri perasuransian mengalami peningkatan sebesar 2,12 persen dari Rp 616,2 triliun di bulan November 2014 menjadi Rp 616,2 triliun pada Desember 2014. Nilai investasi dana pensiun meningkat sebesar sebesar 0,91 persen dari Rp 178,7 triliun menjadi Rp 180,4 triliun.

Pertumbuhan piutang pembiayaan pada Desember 2014 melambat, aset perusahaan pembiayaan per Desember 2014 meningkat 1,90 persen (mtm) menjadi Rp 420,4 triliun, piutang pembiayaan meningkat 5,22 persen (yoy) menjadi Rp 366,2 triliun. Penyaluran piutang pembiayaan, tercermin dari Financing-to-Asset Ratio (FAR) yang  turun menjadi 87,10 persen dari posisi November 2014 sebesar 88,26 persen.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement