Selasa 16 Dec 2014 16:46 WIB

Ekspor Proaktif Guna Tekan Pengaruh Depresiasi Rupiah

Rep: C78/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah
Produk mebel menjadi andalan ekspor Indonesia.
Produk mebel menjadi andalan ekspor Indonesia.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA—Indonesia masih akan menghadapi depresiasi rupiah terhadap dolar AS hingga 2015. Meski begitu, pengaruhnya tidak akan signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekspor.

Makanya, Direktur Eksekutif CORE Indonesia Hendri Saparini mengimbau pemerintah agar melakukan kebijakan ekspor proaktif di tengah situasi tekanan impor terhadap neraca pembayaran belum akan berkurang

“Misalnya dengan menyiapkan policy matrix yang menjelaskan komoditas apa, ke pasar mana dan strategi pemasaran apa,” kata dia seusai diskusi seputar persoalan ekonomi nasional 2014 dan tantangan ekonomi di 2015 yang dilangsungkan CORE Indonesia pada Selasa (16/12).

Meskipun harga minyak masih rendah, lanjut dia, meningkatnya realisasi investasi akan mendorong peningkatan impor. Diterangkannya, ekspor pada 2015 diperkirakan hanya tumbuh marginal pada kisaran tiga hingga empat persen.

Penyebabnya, Negara tujuan utama ekspor seperti Cina, Jepang dan Eropa masih mengalami perlambatan. Selain itu, beberapa harga komoditas yang menjadi andalan Indonesia seperti mineral, batubara dan palm oil diproyeksikan masih tetap melemah.

Berkaca pada kondisi ekspor 2014, kondisinya hingga kuartal ketiga mengalami kontraksi sebesar minus 0,63 persem. Penyebabnya karena permintaan global yang merosot dan harga komoditas global yang relative lebih rendah disbanding tahun sebelumnya.

Padahal, porsi nilai komoditas primer terhadap keseluruhan ekspor Indonesia masih mencapai 63 persen di 2013. Sementara pada saat yang sama, impor barang dan jasa juga mengalami kontraksi sebesar minus 3,2 persen.

“Melambatnya pertumbuhan industri manufaktur  serta menurunnya aliran investasi langsung membuat permintaan barang impor yang mencapai 72 persen dari total impor ikut menurun,” katanya. Penurunan impor barang berimplikasi pada turunnya impor jasa khususnya jasa pengapalan yang masih mengandalkan kapal-kapal asing.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement