Rabu 04 Sep 2013 00:48 WIB

Kemendag: Tak Ada Suplai, Impor Terpaksa Dilakukan

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Dewi Mardiani
Gita Wirjawan
Foto: Antara/Fanny Octavianus
Gita Wirjawan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski sudah ada program swasembada pangan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) Indonesia mengaku terpaksa membuka keran impor karena tidak adanya suplai dan untuk menjaga stabilitas harga.

Direktur Jenderal (Dirjen) Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Indonesia, Srie Agustina, mengaku pihaknya telah melakukan pengecekan adanya suplai bahan-bahan pangan di lapangan atau pasar sebelum memutuskan untuk mengimpor. Dia mencontohkan beberapa produk hortikultura, seperti bawang merah ternyata tidak ditemukan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Artinya, setelah dilakukan pengecekan ternyata suplai bahan pangan itu tidak ada. Para pedagang juga sudah melakukan pengecekan terhadap komoditas itu dan ternyata suplainya memang tidak ada. Padahal ketiadaan suplai bisa memicu harga pangan menjadi tidak stabil. ‘’Untuk menstabilkan harga dan kebutuhan pangan terpenuhi, maka kami terpaksa impor,’’ katanya kepada Republika, Selasa (3/9).

Langkah impor membuat dirinya sedih, karena komoditas pangan di dalam negeri harus diisi dengan barang impor. Namun bagaimana pun dia menegaskan kebutuhan pangan harus dipenuhi, konsumen menerima harga yang wajar. Yang tidak kalah penting adalah petani atau peternak tidak menderita kerugian.

Meski demikian, pihaknya akan berupaya mengurangi ketergantungan terhadap impor. ‘’Produksi memang harus ditingkatkan dalam jangka panjang. Jadi saya percaya Kementerian Pertanian (Kementan) Indonesia secara teknis selalu berupaya untuk meningkatkan produksi dalam rangka pasok dalam negeri,’’ tuturnya.

Sementara itu Menteri Perdagangan (Mendag) Indonesia Gita Wirjawan mengatakan, beberapa produk pangan memiliki stok yang kurang untuk dapat memenuhi kebutuhan nasional. Sehingga mau tidak mau pihaknya harus membuka keran impor dan dalam rangka upaya untuk menstabilisasi harga. ‘’Tetapi ini kebijakan yang sifatnya  sementara,’’ katanya.

Menurut Gita, solusi jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi masalah tersebut adalah meningkatkan produksi nasional semaksimal mungkin. Caranya yaitu dengan meningkatkan produksi dan produktivitas. ‘’Sehingga Indonesia tidak perlu tergantung dengan impor,’’ ujarnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement