Kamis 11 Jul 2013 16:30 WIB

Defisit NPI Triwulan II Diprediksi Lebih Rendah

Ekspor-impor (ilustrasi)
Ekspor-impor (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bank Indonesia (BI) memprediksikan defisit neraca pembayaran Indonesia pada triwulan kedua (Q2) 2013 akan lebih rendah daripada NPI triwulan sebelumnya. "Perbaikan neraca pembayaran Indonesia (NPI) tersebut ditopang oleh surplus yang cukup besar di transaksi modal dan finansial (TMF)," kata Gubernur BI Agus Martowardojo saat jumpa pers di Jakarta, Kamis (11/7).

Secara keseluruhan NPI Triwulan I-2013 mengalami defisit sebesar 6,6 miliar dolar AS dengan perincian defisit transaksi berjalan sebesar 5,3 miliar dolar AS atau 2,4 persen dari PDB dan defisit transaksi modal dan finansial sebesar 1,4 miliar dolar AS. "Surplus TMF didukung oleh aliran modal masuk investasi langsung dan portofolio seiring dengan persepsi positif terhadap fundamental dan prospek ekonomi Indonesia ke depan," katanya.

Agus menuturkan, sesuai dengan pola musimannya, defisit transaksi berjalan pada Triwulan II-2013 memang diperkirakan meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kinerja ekspor diprediksi masih tertekan karena lemahnya permintaan dan penurunan harga komoditas dunia, sementara impor termasuk impor migas masih meningkat.

Agus mengatakan bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2013 sebesar 98,1 miliar dolar AS atau setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah di atas standar kecukupan internasional. BI juga menilai perekonomian global masih cenderung melambat dan diliputi ketidakpastian yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat diprakirakan tidak sekuat perkiraan semula meskipun kegiatan produksi dan konsumsi menunjukkan perbaikan. Permasalahan ekonomi Eropa masih belum menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang berarti.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Cina dan India, tercatat lebih rendah dibandingkan dengan proyeksinya meskipun masih cukup tinggi. Berdasarkan perkembangan tersebut, perekonomian dunia pada tahun 2013 diprakirakan tumbuh lebih rendah daripada prakiraan semula menjadi 3,2 persen.

Pada saat yang sama, harga komoditas dunia juga masih cenderung menurun, kecuali harga minyak. Spekulasi terkait dengan kebijakan pengurangan (tapering) stimulus moneter oleh the Fed juga memengaruhi kondisi keuangan global dan mengakibatkan terjadi pembalikan modal (capital reversal) di negara emerging markets. "Di Indonesia, selama Juni terjadi pelepasan penempatan pada SBN dan saham oleh investor asing sebesar 4,1 miliar dolar AS," ujar Agus.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement