Rabu 03 Jul 2013 15:45 WIB

BI Rate Diprediksi Naik Lagi

Rep: Satya Festiani/ Red: Nidia Zuraya
Bank Indonesia
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Bank Indonesia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) meningkat lagi sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,25 persen. Sebelumnya pada pertengahan Juni 2013, BI memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6 persen.

Komisaris Utama PT Bank Permata Tbk, Tony Prasetiantono, mengatakan sebelum BI Rate dinaikan bank sudah menaikan suku bunga deposito untuk mencegah kekurangan likuiditas karena ekspektasi inflasi telah mencapai 7 persen. "Konsumen sudah tidak mau dengan BI Rate yang lama. Jadi kasarnya mereka membuat BI Rate sendiri," ujar Tony, Rabu (3/7).

Tony menilai dana di perbankan lari ke pasar modal, yang tercermin dari naiknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Selain itu, nasabah juga memakai dana mereka yang sebelumnya disimpan di bank untuk membeli dolar AS.

Walaupun BI Rate naik, perbankan diimbau untuk menahan suku bunga kredit untuk mencegah tingginya kredit bermasalah (NPL). Kenaikan suku bunga kredit juga akan mengganggu pertumbuhan kredit. Bank harus dapat menjaga pertumbuhan kredit di atas 20 persen. Ia memproyeksikan jika suku bunga kredit naik, pertumbuhan kredit nasional akan berada sedikit di bawah 20 persen.

"Kalau menggangu pertumbuhan kredit kan pada akhirnya mengganggu pertumbuhan laba," ujar Tony. Perbankan di Indonesia mendapatkan laba dari pertumbuhan kredit karena mayoritas belum memaksimalkan laba dari fee based income.

Sementara itu, BI akan memperkuat bauran kebijakan untuk meredam kenaikan inflasi akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengatakan BI terus mewaspadai dan siap menempuh bauran kebijakan secara terukur untuk merespon peningkatan ekspektasi inflasi dan dampak lanjutan dari kenaikan harga BBM.

Berdasarkan data BI dari hasil Survei Pemantauan Harga (SPH) sampai dengan minggu IV Juni 2013, inflasi Juni tercatat 1,03 persen (mtm) atau 5,90 persen (yoy). "Kenaikan inflasi terutama berasal dari sebagian dampak kenaikan BBM dan tarif angkutan," ujar Agus.

Inflasi diperkirakan akan mencapai puncaknya pada bulan Juli 2013, yaitu sekitar 2,30 persen (mtm) sebagai dampak kenaikan harga BBM dan pola musiman bulan Ramadhan. Inflasi diprakirakan menurun pada Agustus 2013, yaitu sekitar 0,90 persen (mtm) yang disebabkan oleh menurunnya dampak lanjutan kenaikan harga BBM. BI meyakini bahwa inflasi akan kembali normal pada bulan September 2013 dan diprakirakan akan dapat terkendali di bawah 0,10 persen (mtm).

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement