Senin 17 Jun 2013 13:58 WIB

30 Investor Cina Siap Bangun Smelter di Indonesia Timur

Rep: Esthi Maharani/ Red: A.Syalaby Ichsan
MS Hidayat
Foto: Yogi Ardhi/Republika
MS Hidayat

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Cina berencana melanjutkan investasi di Indonesia. Dalam pertemuan antara Sekretaris Partai Komunis Cina, Provinsi Guangxi, Peng Qinghua dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Cina mengungkap punya misi untuk melanjutkan kerja sama terutama dibidang mineral.

“Mereka akan bekerja sama dengan PT Aneka Tambang (Antam) senilai 1,6 miliar USD,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat, Senin (17/6). Ia mengatakan, kerja sama tersebut masih dalam perundingan dengan PT Antam.

Mineral yang difokuskan yakni nikel. Sedangkan mengenai lokasinya masih belum dipastikan. “Nah, tempatnya itu jangan saya yang bikin statement harus PT Antam,” katanya. Selain kerja sama tersebut, ada kerja sama  trade and economic zone di Bekasi yang diikuti secara aktif oleh 30 investor dari Tiongkok.

Ia mengatakan, melalui duta besar Cina di Indonesia disebutkan pula dalam waktu dekat ada nota kesepakatan antara kedua pemerintah untuk membangun kawasan industri.

“Dalam waktu dekat ada MoU government to government untuk membangun kawasan industri, khususnya di Indonesia Timur, di daerah-daerah yang menjadi sumber mineral,” katanya. Kawasan di Indonesia yang dibidik adalah Indonesia timur.

Kawasan yang dibidik antara lain Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Di kawasan tersebut, lanjutnya Pemerintah Cina akan mengundang investor besar dari Cina untuk mendirikan smelter di bidang mineral.

Dikatakan MS Hidayat, saat ini draf kerja sama tersebut sedang dibuat melalui koordinasi antara kedutaan Cina dan kementerian Perindustrian. Jika nanti MoU tersebut disepakati, Indonesia diyakini akan mendapatkan keuntungan lebih besar daripada sebelumnya.

Sebab, selama puluhan tahun, Indonesia mengekpor mineral mentah terbanyak ke Cina. Dari ekspor mineral mentah itu, industri Cina berkembang pesat. Hal itu yang dicoba untuk dihentikan.

“Mereka realistis, tahu alasannya kita setop, makanya dia mengikuti aturan, ramai-ramai industrinya pindah ke sini,” katanya. Menurutnya, pembangunan kawasan industri di Indonesia timur akan membantu program hilirisasi di bidang mineral.

"Ini point momen penting ketika Indonesia ingin melaksanakan UU minerba, dimana mulai tahun 2014 kita melarang ekspor bahan mentah mineral, dan mendirikan industri smelter sehingga nilai tambahnya lebihnya ada di Indonesia," kata Hidayat.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement