REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Terus melemahnya nilai tukar rupiah dinilai sebagai imbas ketidakpastian rencana kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
"Ada faktor ketidakpastian kenaikan BBM bersubsidi," kata pengamat pasar modal Desmond Sitilonga, Kamis (30/5). Hal ini membuat pelaku asing ragu untuk bermain ke pasar Indonesia sehingga dolar yang seharusnya masuk menjadi batal.
Sentimen luar yang perlu dicermati juga adalah adanya penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia dari IMF beberapa waktu lalu.
Oleh karena itu BI perlu mencermati penyebab pelemahan rupiah, apakah benar-benar memang karena tingginya kebutuhan dolar. BI juga diminta untuk berhati-hati dalam mengucurkan cadangan dolar sehingga tidak dimanfaatkan spekulan yang menginginkan BI mengeluarkan sebanyak-banyaknya dolar.
Analis Trust Securities Reza Priyambada mengatakan pelemahan rupiah akan berdampak pada kinerja emiten-emiten yang memiliki hutang dalam mata uang dolar dan penjualan dengan bahan baku impor. "Selain itu asing juga melihat pemerintah galau menaikkan harga BBM sehingga rupiah kehilangan daya saing," kata Reza