REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan bahwa pihaknya masih mengumpulkan data pasokan daging sapi dan mengecek kebenarannya.
"Solusi harga daging sapi tinggi masih dikaji dengan mengumpulkan data pasokan daging yang saya kira tidak akurat. Setelah itu akan dirapatkan dengan pihak yang terkait. Rapatnya belum dapat dipastikan, tunggu saja," kata Hatta Rajasa saat ditemui di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, harus ada pengecekan ulang terhadap pasokan daging kenapa harga komoditas daging menjadi naik.
"Saya kira data suplai daging sapi tidak akurat dan harus dicek kebenarannya. Selain itu, harus dilakukan pengecekan terhadap sapi lokal apakah bisa dipotong atau tidak, bisa masuk ke pasar atau tidak. Kalau tidak masuk ke pasar bagaimana kita mencukupi suplai itu," ujar dia.
Sebelumnya, mayoritas pedagang meminta pemerintah untuk segera mengambil kebijakan untuk menekan harga karena tingginya harga komoditas daging yang menyebabkan penurunan penjualan.
Hal tersebut terungkap saat Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa mengunjungi Pasar Stasiun Klender.
Salah seorang pedagang, Rukiyah mengatakan dalam tiga bulan terakhir harga daging sapi terus mengalami kenaikan konstan. Di mana sebelumnya harga jual daging sapi hanya Rp 70.000 sampai Rp 75.000 per kilogram, saat ini mencapai Rp 90.000 per kilogram.
"Tadi malam saja sudah naik lagi. Semenjak tiga hari yang lalu bahkan naik terus sekitar Rp 2.000 per kilogram," ujarnya pada Hatta di Pasar Klender, Jakarta, Rabu.
Menurut dia, faktor harga yang menjadi penghambat membuatnya hanya mampun menjual 150 kilogram daging per hari.
"Idealnya per hari, mampu menjual 300 kilogram. Namun saat ini penjualan menurun jadi hanya menjadi 150 kilo," ucapnya.
Sementara Juminem, seorang pedagang daging ayam menambahkan harga daging ayam juga mengalami kenaikan. Idealnya harga satu ekor ayam ialah Rp18.000 sampai Rp25.000 namun saat ini mencapai Rp 35.000.
"Kita maunya dagangan murah. Tadi pak menteri menjanjikan harga turun," ujarnya.