Kamis 13 Sep 2012 15:03 WIB

BI Rate Tetap Dipatok 5,75 Persen

Bank Indonesia is asked to help government in building Financial Inclusion Society (IFIS).
Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Bank Indonesia is asked to help government in building Financial Inclusion Society (IFIS).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75 persen yang dipandang masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi tahun 2012 dan 2013, sebesar 3,5 - 5,5 persen.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia Dody Budi Waluyo di Jakarta, menyampaikan bahwa RDG Bank Indonesia memandang bahwa keseimbangan eksternal sejauh ini menunjukkan defisit transaksi berjalan pada Triwulan III-2012 mengalami perbaikan seperti yang diperkirakan sebelumnya.

Namun demikian, Bank Indonesia tetap mewaspadai tekanan terhadap transaksi berjalan terutama yang bersumber dari risiko memburuknya prospek perekonomian global. "Ke depan, Bank Indonesia terus mengevaluasi dampak dari kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan sebelumnya dan apabila diperlukan akan mengambil langkah-langkah kebijakan lanjutan," katanya, Kamis (13/9).

Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam mengelola permintaan domestik dan perbaikan neraca pembayaran agar tetap sejalan dengan upaya menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.

Di sisi lain, Dewan Gubernur BI menilai kinerja perekonomian domestik masih tetap sejalan dengan kapasitas ekonomi didukung tingginya konsumsi dan investasi, sementara pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi dan terkendalinya inflasi.

Investasi juga tetap kuat yang didorong oleh tingginya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi, dan didukung pembiayaan investasi baik yang bersumber dari perbankan maupun investasi langsung (FDI).

Sementara laju ekspor diperkirakan akan sedikit membaik sejalan dengan membaiknya prospek beberapa negara mitra dagang utama, walaupun masih dibayangi risiko pelemahan perekonomian global.

Sesuai dengan prakiraan, Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III-2012 diprakirakan mengalami perbaikan walaupun tetap perlu diwaspadai. Defisit transaksi berjalan diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan triwulan II-2012, sesuai dengan prakiraan sebelumnya.

Hal itu terindikasi dari mulai membaiknya neraca perdagangan pada bulan Juli 2012. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan dapat diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial yang diprakirakan meningkat, terutama FDI. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor yang tinggi terhadap perekonomian Indonesia.

Ke depan, kondisi NPI diharapkan semakin baik dengan ekspektasi bahwa kondisi perekonomian global dan harga komoditas ekspor akan membaik serta didukung oleh respon kebijakan yang efektif.

Sementara itu, jumlah cadangan devisa pada akhir Agustus 2012 sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya, yaitu mencapai 109 miliar dolar AS atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement

Rekomendasi

Advertisement