Jumat 21 Oct 2011 06:57 WIB

Perbankan Nasional Mulai Mewaspdai Dampak Krisis Global

Rep: sefti oktarinisa/ Red: taufik rachman

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Perbankan nasional mengaku sudah mulai pasang kuda-kuda mengantisipasi imbas krisis yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Bank Mandiri misalnya, menyatakan sudah mulai menerapkan status waspada pada ketidakstabilan perekonomian dunia kini.

“Kalau di Mandiri kita udah dalam mood waspada,” tegasnya pada wartawan Kamis (20/10) malam. Meski pertumbuhan tetap terus berlangsung, dalam perkembangannya Mandiri mengaku berhati-hati dalam beberapa sektor bisnis yang dilakukan.

Hal ini terutama terkait sektor ekspor impor. Pasalnya harga komoditas yang fluktuatif menyebabkan bisnis menjadi amat berisiko.

“Kita harus cermati harga komoditi sekarang. Apakah harganya trennya naik ataukah turun,” ujarnya. Ini bukan hanya terjadi pada satu komoditas misalnya crude palm oil (CPO) tapi juga karet dan batu bara.

Krisis Eropa dan AS dimulai saat Yunani tidak bisa membayar utang akibat membesarnya defisit APBN di awal 2011 lalu. Meski belum terlihat dampaknya di seluruh dunia, krisis ini diperkirakan akan mulai memperlambat ekonomi sejumlah negara Asia di 2012.

Menurut Sentot dampak krisis bisa berpengaruh pada portopolio risk managemen Mandiri. Namun ditegaskannya pihaknya sudah mulai mengambil ancang-ancang dalam penyusunan Rencanan Kerja Anggaran Perusahaan (RKAP).

Ia menuturkan ini akan menjadi internal skenario membendung dampak krisis. Mandiri sudah menerapkan strestes untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk. “Kalau Bank Indonesai (BI) lihat masih ada room pertumbuhan kita akan jadikan referensi juga,” katanya.

Permintaan domestik bakal menjadi tumpuan guna mendorong pertumbuhan Mandiri ke depan. Seperti enegri, infrastruktur, consumer good, oil and gas.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement