REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA-- Pertemuan Tahunan Bank Pembangunan Asia (ADB) yang akan digelar di Hanoi, Vietnam, 3 - 6 Mei 2011, akan membahas beragam isu penting seperti dampak dari kenaikan harga bahan pangan dan bahan bakar minyak (BBM).
Rilis ADB yang diterima di Jakarta, Jumat menyebutkan, baik kawasan Asia maupun Pasifik sedang menghadapi fenomena melonjaknya harga bahan pangan dan BBM, yang sangat berpengaruh kepada sekitar 2 miliar orang yang tinggal di kawasan tersebut.
ADB menyebutkan, 2 miliar orang itu sangat berpengaruh karena mereka hanya mendapatkan tingkat penghasilan kurang dari dua dolar per hari. Selain itu, berbagai bencana alam seperti banjir dan gempa bumi yang kerap terjadi, juga dinilai meningkatkan dampak dari kenaikan harga tersebut.
Lembaga keuangan itu, juga akan menyorot masalah degradasi lingkungan dan perubahan iklim, fenomena populasi yang bertumbuh dan menua ("ageing"), serta melakukan keseimbangan ulang terhadap ekonomi global. Berbagai hal itu dinilai merupakan persoalan besar dalam mengatasi tantangan yang dihadapi Asia dalam membuat fondasi yang kuat, guna menciptakan masyarakat yang makmur di masa mendatang.
Pertemuan tersebut dilaporkan juga akan mengumpulkan menteri keuangan dari negara-negara yang tergabung di ASEAN, Republik Rakyat China (RRC), Jepang, dan Korea Selatan (atau kerap disebut ASEAN+3). Kawasan Asia dan Pasifik pada saat ini dinilai mengemban seperempat hasil keluaran ("output") ekonomi global, tetapi hal ini dapat meningkat menjadi 50 persen pada 2050.
Pada tahun 2050 juga, kawasan tersebut dinilai akan didiami oleh lebih dari separuh populasi dunia yang kebanyakan akan hidup di daerah perkotaan. Secara total, pertemuan tahunan tersebut diperkirakan akan mengumpulan sekitar 3.000 orang pemimpin, pakar, dan pejabat dari bidang pemerintahan, sektor swasta, akademisi, media, dan LSM.