REPUBLIKA.CO.ID,BANDUNG--Bank Indonesia (BI) dan Badan Pusat Statistik (BPS), Jumat (26/11), menandatangani kesepakatan kerja sama dan pertukaran data statistik. BI akan mendapatkan data sektor riil dari BPS, sebaliknya BPS akan mendapatkan pasokan data finansial dan moneter.
BI menegaskan kebutuhan data detil sektor riil memegang peran penting dalam upaya menurunkan inflasi ke tingkat presisi. ‘’MoU ini untuk memperkuat komitmen BI dan BPS dalam rangka pertukaran informasi statistik yang lebih luas,’’ kata Kepala BPS, Rusman Heriawan, di Kantor BI (KBI) Bandung, Jumat (26/11).
Selama ini, ujar dia, kerja sama kedua instansi dilakukan melalui pertemuan rutin semata. Menurut Rusman, kerja sama ini bertujuan mendapatkan mutual benefit bagi kedua instansi, yaitu untuk saling memperkaya substansi statistik. BPS, lanjutnya, akan mendapatkan data lengkap mengenai finansial dan moneter. Sebaliknya BI akan mendapatkan data sektor riil yang dikompilasi BPS. ‘’Dengan kerja sama ini, BI dan BPS bisa lebih imbangi kecepatan data statistik yang berkembang dan semakin luas,’’ katanya.
Pengayaan data riil yang didapatkan dari BPS, ujar dia, akan menambah acuan bagi BI dalam menentukan kebijakan moneter. Apalagi selama ini ada opini bahwa sektor finansial dan moneter kurang peduli dengan sektor riil. Sementara BPS akan mendapatkan data finansial dan moneter. Seperti, sebut Rusman, neraca pembayaran Indonesia (NPI), neraca perbankan, neraca BI, dan posisi investasi. ‘’Yang implikasinya pada sektor riil,’’ ujar dia.
Gubernur BI Darmin Nasution mengatakan penandatanganan ini menjadi lebih penting dengan kehadiran jajaran pimpinan daerah kedua instansi. Menurutnya ini menjadi modal utama dari koordinasi. ‘’Tak hanya di Indonesia, di negara paling maju pun koordinasi merupakan persoalan yang tak mudah dilaksanakan,’’ kata dia.
Karenanya saling kenal antar jajaran instansi di daerah memiliki peran penting, menyusul MoU kedua pihak. Selain mengurusi moneter yang kerap dianggap abstrak, kata Darmin, BI juga mengurusi inflasi dan sektor riil. Jajaran BI di daerah, ujar dia, berperan aktif sebagai fasilitator dan resource person. ‘’Kenapa begitu ? Karena presisi inflasi sudah semakin dekat,’’ kata dia.