Selasa 21 Sep 2010 01:23 WIB

Gandeng Tangan Flexi-Esia Langgar UU Antimonopoli

Flexi
Flexi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Rencana konsolidasi layanan Flexi dan Esia oleh PT Telkom dan PT Bakrie Telecom, dikhawatirkan melanggar UU Anti Monopoli, karena kedua operator telepon tetap nirkabel (FWA) itu akan menguasai lebih dari 50 persen pasar layanan CDMA.

"Konsolidasi itu akan memicu persaingan usaha tidak sehat," kata Plh Kepala Biro Humas dan Hukum Kepala Bagian Advokasi Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Zaki Zein Badroen, di Jakarta, Senin. 

Zaki menjelaskan, KPPU akan meminta kedua operator tersebut untuk memberikan klarifikasi terkait rencana konsolidasi tersebut. Pemanggilan kedua operator tersebut, terkait dengan penguasaan pasar yang dimiliki yang jika digabungkan akan mengarah adanya praktik monopoli.

Pemanggilan KPPU tersebut didasarkan atas PP No 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat. "Jika mereka bergabung, praktis tidak ada lagi pesaing signifikan di pasar CDMA," ujarnya.

Saat ini jumlah pelanggan Flexi mencapai 16,2 juta nomor, sedangkan Esia sekitar 11,1 juta nomor. Dengan begitu, sekitar 80 persen pasar dikuasai keduanya. Hal yang sama berlaku untuk alat produksi, Flexi memiliki 5.600 BTS sedangkan Esia sekitar 4.000 BTS.

Menurut Zaki, hasil klarifikasi tersebut terindikasi monopoli maka KPPU berwenang membatalkan rencana penggabungan itu.

Secara terpisah, pengamat keuangan Yanuar Rizky menyarankan PT Telkom melakukan ekspansi ke luar negeri ketimbang melakukan konsolidasi dengan pemain lokal. "Telkom sudah seharusnya berpikir lebih strategis dalam ekspansi usahanya. Jangan karena alasan transformasi bisnis, semua cara yang tidak penting dijalankan manajemen," ujarnya.

Menurutnya, ekspansi ke luar negeri lebih masuk akal ketimbang konsolidasi dengan perusahaan yang memiliki utang besar.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2010, Bakrie Telecom mencatat utang sebesar 30 juta dolar AS. Anak perusahaan Bakrie Grup ini juga memiliki utang sebesar RMB 2 miliar dari Industrial and Commercial Bank of China dan Huawei Technologies Co. Ltd.

Saat bersamaan, Bakrie Telecom pada pertengahan 2010 juga mencatat penurunan laba sebesar 96,29 persen, menjadi Rp 2,7 miliar rupiah dari periode sama tahun sebelumnya sebelumnya Rp 72,8 miliar. 

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement