Kamis 05 Nov 2026 23:07 WIB

Ekonom Revisi Naik Proyeksi Ekonomi 2026

Bank Danamon perkirakan konsumsi rumah tangga dan investasi topang pertumbuhan.

Suasan saat waktu berbuka puasa di kawasan Halte Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad (2/4/2023). Keberadaan anjungan Halte Bundaran Hotel Indonesia dapat dimanfaatkan warga untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) dengan melihat lanskap gedung-gedung perkantoran. Selain itu, anjungan Halte Bundaran HI juga menyediakan beragam stan makanan yang bisa dijadikan alternatif tempat berbuka puasa bersama.
Foto: Republika/Thoudy Badai
Suasan saat waktu berbuka puasa di kawasan Halte Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Ahad (2/4/2023). Keberadaan anjungan Halte Bundaran Hotel Indonesia dapat dimanfaatkan warga untuk menunggu waktu berbuka puasa (ngabuburit) dengan melihat lanskap gedung-gedung perkantoran. Selain itu, anjungan Halte Bundaran HI juga menyediakan beragam stan makanan yang bisa dijadikan alternatif tempat berbuka puasa bersama.

SABANG — Bank Danamon merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,35 persen. Angka tersebut meningkat dari perkiraan sebelumnya yang berada di level 5,2 persen.

Revisi tersebut menyusul realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal III 2026 yang mencapai 5,47 persen secara tahunan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik. Capaian ini menunjukkan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global.

Baca Juga

Lead Economist Bank Danamon Irman Faiz mengatakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Kondisi tersebut turut mendorong Danamon menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi pada 2027 menjadi 5,26 persen, dari sebelumnya 5,1 persen.

"Jadi artinya dengan pertumbuhan kuartal 3 di 5,47 itu level pertumbuhan kita secara kumulatif sama dengan level pertumbuhan di semester 1," kata Irman dalam pemaparannya, Kamis (5/11/2026). Pihaknya terus memantau indikator makroekonomi secara berkala.

Meski demikian, Irman menilai perlu dibedakan antara komponen yang menopang pertumbuhan ekonomi dan faktor yang mendorong akselerasinya. Konsumsi rumah tangga dan investasi masih menjadi penopang utama karena memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian.

Namun, akselerasi pertumbuhan pada kuartal III lebih banyak didorong oleh perbaikan ekspor neto. Sektor perdagangan luar negeri terbukti memberikan andil signifikan terhadap kinerja positif tersebut.

Menurut dia, kinerja ekspor Indonesia terbantu oleh pertumbuhan sejumlah mitra dagang utama, seperti Amerika Serikat dan China, yang lebih baik dari perkiraan pasar. Kondisi tersebut mendorong ekspor tumbuh lebih tinggi dari perkiraan sehingga memperbaiki kontribusi ekspor neto terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Kalau kita bandingkan akselerasi pertumbuhannya, yang mendorong pertumbuhan itu sebenarnya adalah net export yang membaik," ujar dia. Tren positif ini diharapkan berlanjut hingga akhir tahun.

Di sisi lain, kontribusi konsumsi rumah tangga, investasi, dan konsumsi pemerintah cenderung menurun dibandingkan periode sebelumnya. Hal ini menunjukkan perbaikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal III lebih banyak berasal dari kondisi eksternal, sementara penguatan permintaan domestik masih menjadi pekerjaan rumah.

Irman menilai, penguatan permintaan dalam negeri diperlukan agar pertumbuhan ekonomi dapat berlanjut secara berkelanjutan. Pemerintah dan pelaku industri perlu bersinergi untuk menjaga daya beli masyarakat.

Salah satu faktor yang diharapkan mendorong konsumsi rumah tangga adalah peningkatan pendapatan masyarakat melalui investasi dan ekspor. Sektor riil harus didorong agar mampu menyerap tenaga kerja lebih optimal.

Dia menjelaskan, terdapat tiga sumber penerimaan yang dapat mendorong konsumsi rumah tangga. Pertama, investasi yang memberikan efek pengganda terhadap penyerapan tenaga kerja dan pendapatan masyarakat.

Kedua, peningkatan ekspor yang dapat meningkatkan penerimaan perusahaan dan kemudian mengalir ke masyarakat melalui bonus maupun pendapatan pekerja. Ketiga, konsumsi pemerintah, termasuk bantuan sosial yang menjadi penerimaan bagi masyarakat.

Perbaikan ekspor pada kuartal III diperkirakan belum langsung berdampak terhadap konsumsi rumah tangga. Menurut Irman, efek pengganda dari peningkatan penerimaan ekspor baru akan terasa secara lebih penuh sekitar dua kuartal setelahnya.

"Jadi kalau kita ngomongin konsumsi rumah tangga sumber penerimanya kan ada tiga. Pertama adalah investasi. Kalau investasinya punya multiplier memberikan dampak ke labor force. Kedua adalah ekspor. Ekspor naik penerimaan ekspor naik turun ke bawah dalam bentuk bonus dan orang bisa belanja. Dan yang ketiga adalah konsumsi pemerintah," kata dia. Transmisi kebijakan ekonomi membutuhkan waktu.

Dengan perbaikan ekspor tersebut, Danamon memperkirakan konsumsi rumah tangga pada semester I 2027 akan relatif lebih baik. Kondisi ini menjadi salah satu alasan di balik revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun depan.

Dari sisi pendapatan, Irman melihat perbaikan kondisi konsumen mulai lebih merata pada kuartal III. Indeks penghasilan saat ini yang dirilis Bank Indonesia untuk kelompok kelas menengah tercatat meningkat 6,4 persen secara tahunan pada kuartal III, setelah sebelumnya terkontraksi 2,9 persen pada kuartal II.

Namun, perbaikan tersebut belum sepenuhnya merata. Kelompok masyarakat berpendapatan atas justru mengalami sedikit kontraksi pendapatan pada kuartal III.

Irman mengaitkan kondisi tersebut dengan efek kekayaan dari pasar keuangan yang sedang menghadapi tekanan, terutama pasar saham dan obligasi. Stabilitas pasar modal menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli kelompok atas.

Dia juga melihat konsumen masih cenderung berhati-hati menghadapi ketidakpastian. Masyarakat lebih memilih menempatkan dana pada instrumen yang likuid dan berisiko rendah, seperti tabungan, deposito, emas, dan perhiasan.

Sementara itu, porsi alokasi pendapatan untuk aset berisiko seperti saham dan properti cenderung menurun. Langkah kehati-hatian ini diambil di tengah dinamika ekonomi global.

Berita Lainnya

Rekomendasi