Kamis 05 Nov 2026 18:19 WIB

El Nino Ancam Cabai dan Bawang, Kementan Bersiap

Ditjen Hortikultura padukan peta kekeringan dengan sentra hortikultura nasional.

Petani bawang merawat bibit tanaman budidaya bawang merah di Rumah Bawang, Cimaung, Jawa Barat, Kamis (18/9/2025). Lebih dari 80 orang yang berasal dari 20 negara peserta acara International Symposium on Edible Alliums IX, yang digelar IPB University bersama International Society for Horticultural Science (ISHS) mengunjungi Rumah Bawang, sebuah learning farm yang diinisiasi EWINDO untuk mendapatkan pengalaman secara langsung bagaimana knowledge transfer yang komprehensif kepada petani tentang budidaya bawang merah dari biji (True Shallot Seed/ TSS) menjadi terobosan yang mampu menjawab masalah yang dihadapi petani sekaligus membuka peluang peningkatan daya saing Indonesia di sektor pertanian.
Foto: Dok Republika
Petani bawang merawat bibit tanaman budidaya bawang merah di Rumah Bawang, Cimaung, Jawa Barat, Kamis (18/9/2025). Lebih dari 80 orang yang berasal dari 20 negara peserta acara International Symposium on Edible Alliums IX, yang digelar IPB University bersama International Society for Horticultural Science (ISHS) mengunjungi Rumah Bawang, sebuah learning farm yang diinisiasi EWINDO untuk mendapatkan pengalaman secara langsung bagaimana knowledge transfer yang komprehensif kepada petani tentang budidaya bawang merah dari biji (True Shallot Seed/ TSS) menjadi terobosan yang mampu menjawab masalah yang dihadapi petani sekaligus membuka peluang peningkatan daya saing Indonesia di sektor pertanian.

JAKARTA -- Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan serangkaian langkah antisipasi menghadapi ancaman kekeringan panjang akibat fenomena El Nino yang diproyeksikan berlangsung hingga April 2027. Strategi mitigasi tersebut difokuskan pada perlindungan produksi hortikultura, terutama cabai dan bawang merah, guna menjaga ketersediaan pasokan sekaligus mencegah gejolak harga pangan yang dapat membebani masyarakat.

Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan, Freddy Lumban Gaol, mengatakan pemerintah telah mengintegrasikan peta wilayah rawan kekeringan dengan data sentra produksi hortikultura nasional. Pemetaan tersebut menjadi dasar untuk menentukan prioritas penanganan, mengantisipasi gangguan produksi, serta menjaga kesinambungan pasokan komoditas strategis di berbagai daerah.

Baca Juga

Menurut Freddy, pemerintah memperkuat koordinasi distribusi komoditas dari wilayah yang mengalami surplus produksi menuju daerah dengan pasokan terbatas. Langkah itu dilaksanakan bersamaan dengan penguatan kawasan produksi, pengembangan pangan pekarangan beragam dan bergizi, serta penyediaan sarana pendukung budidaya yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Salah satu langkah konkret yang disiapkan adalah penyaluran bantuan pompa air bagi petani di kawasan rawan kekeringan. Program tersebut dikoordinasikan dengan Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) untuk membantu mempertahankan ketersediaan air pada lahan pertanian yang mengalami tekanan akibat berkurangnya curah hujan.

"Langkah mitigasi ini diperkuat lewat koordinasi bersama asosiasi champion cabai dan asosiasi bawang merah, serta sosialisasi asuransi pertanian bagi para petani," ujar Freddy dalam keterangannya, Rabu (4/11/2026). Ia menjelaskan bahwa keterlibatan kelompok produsen menjadi bagian penting untuk memastikan langkah antisipasi dapat menjangkau sentra produksi yang menghadapi risiko gangguan iklim.

Freddy menilai keberhasilan mitigasi kekeringan memerlukan keterlibatan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan kelompok tani secara berkelanjutan. Pengalaman lapangan dari industri benih, pupuk, dan pestisida diharapkan dapat dipadukan dengan kajian ilmiah untuk menghasilkan rekomendasi teknis yang sesuai dengan kebutuhan petani.

El Nino Berpotensi Ganggu Produksi Hortikultura

Guru Besar Universitas Padjadjaran, Prof. Dedi Ruswandi, M.Sc., Ph.D., mengingatkan bahwa perubahan pola iklim dapat meningkatkan kerentanan sektor pertanian, khususnya hortikultura yang membutuhkan pengelolaan air secara intensif. Menurutnya, El Nino yang disebut telah mencapai kategori sangat kuat pada Oktober 2026 berpotensi berlanjut hingga awal 2027 sehingga pemerintah dan petani perlu memperkuat langkah antisipasi.

Dedi menjelaskan bahwa kondisi tersebut diperkirakan dapat memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah, terutama Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pergeseran awal musim hujan juga berpotensi memengaruhi kalender tanam, ketersediaan air irigasi, serta produktivitas tanaman yang sensitif terhadap tekanan suhu dan kelembapan.

Selain pengaruh El Nino, Dedi menyoroti dampak pemanasan global terhadap meningkatnya risiko kejadian iklim ekstrem. Ia mengemukakan proyeksi bahwa frekuensi El Niño ekstrem berpotensi meningkat dari sekitar sekali dalam 20 tahun menjadi sekali dalam 10 tahun, sehingga perencanaan pertanian perlu semakin mempertimbangkan ketidakpastian iklim.

Menurut Dedi, persoalan utama dalam penanganan El Nino pada periode sebelumnya bukan semata keterbatasan informasi mengenai perubahan cuaca, melainkan kurangnya langkah antisipasi sejak dini atau lack of early action. Peringatan dini yang tersedia belum selalu diterjemahkan menjadi keputusan teknis yang dapat segera diterapkan petani untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman.

Ia menilai informasi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) perlu terhubung secara lebih efektif dengan perencanaan produksi pertanian. Informasi tersebut dapat menjadi acuan bagi petani dalam menentukan waktu tanam, memilih varietas yang sesuai, mengatur kebutuhan air, dan menyiapkan perlindungan tanaman terhadap gangguan organisme pengganggu.

Komoditas hortikultura seperti cabai, tomat, dan bawang merah memiliki kerentanan terhadap kekeringan karena karakteristik pertumbuhan dan kebutuhan airnya. Sebagian tanaman tersebut mempunyai sistem perakaran relatif dangkal sehingga penurunan kelembapan tanah dapat lebih cepat memengaruhi pertumbuhan dan pembentukan hasil panen.

Dedi menjelaskan bahwa suhu tinggi juga berpotensi mengganggu proses pembungaan dan pembentukan buah, termasuk menyebabkan keguguran bunga atau flower drop. Kondisi kering yang berlangsung lama dapat meningkatkan tekanan sejumlah hama pengisap yang menjadi vektor penyakit virus, termasuk penyakit kuning pada tanaman cabai.

Gangguan produksi hortikultura perlu mendapat perhatian karena komoditas seperti cabai dan bawang merah memiliki peran penting dalam konsumsi rumah tangga serta pembentukan harga pangan. Fluktuasi hasil panen dan keterbatasan pasokan di sentra produksi berpotensi memengaruhi harga di tingkat konsumen, terutama apabila gangguan berlangsung serentak di sejumlah wilayah.

Kembangkan Benih Tahan Kekeringan dan Kalender Tanam Dinamis

Menghadapi risiko tersebut, Dedi mendorong perubahan orientasi program pemuliaan tanaman dari sekadar mengejar produktivitas tinggi menuju kemampuan mempertahankan hasil secara stabil pada berbagai kondisi lingkungan. Menurutnya, varietas yang memiliki daya adaptasi lebih baik terhadap tekanan iklim dapat membantu petani mengurangi risiko penurunan hasil ketika menghadapi kekeringan dan suhu tinggi.

Salah satu pendekatan yang direkomendasikan adalah pengembangan varietas dengan ketahanan terhadap beberapa jenis gangguan sekaligus atau multiple resistance. Dedi juga menekankan pentingnya ketahanan horizontal, yaitu mekanisme ketahanan tanaman yang melibatkan sejumlah faktor genetik sehingga dapat memberikan perlindungan lebih luas terhadap penyakit tertentu.

Di sisi lain, pemerintah dan pemangku kepentingan pertanian dinilai perlu memperkuat pemetaan risiko kekeringan berdasarkan karakteristik wilayah produksi. Dedi merekomendasikan penggunaan Sistem Informasi Geografis (SIG) hingga tingkat kecamatan agar penentuan kalender tanam dapat disesuaikan secara lebih dinamis dengan perkembangan iklim.

Pemetaan tersebut diharapkan membantu petani mengenali periode tanam yang lebih sesuai, menentukan kebutuhan irigasi, dan memilih komoditas berdasarkan risiko lingkungan. Dengan informasi yang lebih rinci, langkah mitigasi dapat dirancang menurut kondisi setiap wilayah, bukan menggunakan pendekatan seragam untuk seluruh sentra hortikultura.

Dedi juga merekomendasikan penerapan sistem pertanaman ganda atau multiple cropping, termasuk pola tumpang sari cabai dan bawang merah. Diversifikasi tanaman tersebut dinilai dapat membantu menyebarkan risiko usaha tani karena gangguan produksi pada satu komoditas tidak selalu menimbulkan dampak yang sama terhadap komoditas lainnya.

"Mitigasi El Nino harus dijadikan variabel tetap dalam perencanaan pangan nasional. Ketahanan pangan tidak dibangun saat krisis, tetapi di antara krisis," tegas Dedi. Ia menekankan bahwa kesiapan menghadapi perubahan iklim perlu dibangun melalui penguatan sistem produksi, pengembangan teknologi, dan penerapan langkah pencegahan sebelum gangguan pasokan terjadi.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi