Ahad 01 Nov 2026 22:02 WIB

Pengelolaan Tenaga Kerja Manufaktur Dituntut Lebih Terukur

Staffinc memaparkan pentingnya mengintegrasikan tenaga kerja dengan teknologi

Staffinc Industry Executive Forum (SIEF) 2026 yang digelar di Cikarang, Kamis (22/10). Forum bertema Achieving Operational Excellence at Scale: Managing Complexity Across People, Processes & Technology in the Manufacturing Industry itu mempertemukan pelaku industri untuk membahas tantangan pengelolaan tenaga kerja di sektor manufaktur.
Foto: dok istimewa
Staffinc Industry Executive Forum (SIEF) 2026 yang digelar di Cikarang, Kamis (22/10). Forum bertema Achieving Operational Excellence at Scale: Managing Complexity Across People, Processes & Technology in the Manufacturing Industry itu mempertemukan pelaku industri untuk membahas tantangan pengelolaan tenaga kerja di sektor manufaktur.

CIKARANG -- Industri manufaktur perlu mengembangkan pengelolaan tenaga kerja yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan jumlah pekerja, tetapi juga mengukur kontribusinya terhadap target operasional. Hal ini menjadi penting di tengah tekanan biaya, perubahan kebutuhan produksi, dan kompleksitas kegiatan industri.

Perspektif tersebut mengemuka dalam Staffinc Industry Executive Forum (SIEF) 2026 yang digelar di Cikarang, Kamis (22/10). Forum bertema Achieving Operational Excellence at Scale: Managing Complexity Across People, Processes & Technology in the Manufacturing Industry itu mempertemukan pelaku industri untuk membahas tantangan pengelolaan tenaga kerja di sektor manufaktur.

Dalam forum tersebut, Tety Yanuati, yang juga menjabat Ketua FKHR EJIP dan GM PT Kanefusa Indonesia, membahas dinamika industri manufaktur, termasuk tekanan biaya dan kepatuhan terhadap regulasi yang menjadi tantangan bagi perusahaan dalam menjaga daya saing.

Tety juga menyoroti pentingnya pengelolaan tenaga kerja yang mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri. Perusahaan perlu memastikan ketersediaan tenaga kerja sejalan dengan kebutuhan operasional agar kegiatan produksi berjalan efektif.

Sementara itu, Senior HR Management Practitioner, Dr. Wahyitno, membahas fluktuasi kebutuhan produksi, pengelolaan tenaga kerja berbasis sistem shift, serta kesiapan dan penempatan pekerja sesuai kebutuhan di lapangan.

Head of Business Development Staffinc, Febriandi, menjelaskan pendekatan Result Driven Workforce Solutions dalam pengelolaan tenaga kerja. Menurut dia, pemenuhan kebutuhan pekerja perlu diikuti dengan pengelolaan kinerja yang terukur dan terhubung dengan indikator operasional serta target bisnis perusahaan.

Febriandi juga memaparkan pentingnya mengintegrasikan tenaga kerja dengan teknologi, data, dan proses kerja yang terstruktur. Integrasi tersebut dapat membantu perusahaan memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kinerja tenaga kerja, meningkatkan konsistensi operasional, serta memastikan kontribusi pekerja selaras dengan kebutuhan produksi.

Pengelolaan tenaga kerja, dalam konteks tersebut, tidak hanya berkaitan dengan jumlah pekerja yang tersedia. Kesiapan keterampilan, proses kerja, pengawasan, serta pemanfaatan teknologi dan data turut menentukan kemampuan perusahaan menjaga produktivitas di tengah perubahan kebutuhan produksi.

Forum juga menghadirkan sesi SIEF Live Assessment dan diskusi kelompok yang dimoderatori Nadya Yosephine. Peserta membahas sejumlah persoalan dalam pengelolaan tenaga kerja, mulai dari visibilitas data, koordinasi antara fungsi sumber daya manusia dan operasional, hingga kesenjangan antara perencanaan tenaga kerja dan kondisi di lapangan.

Selain itu, digelar APTIKNAS AI Executive Workshop bersama Wakil Ketua I Bidang Digital Talent APTIKNAS, Sandy Kusuma. Sesi tersebut membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam mendukung kegiatan operasional perusahaan.

SIEF merupakan bagian dari rangkaian forum Staffinc Group yang diselenggarakan di sejumlah kota, yakni Bekasi, Cikarang, Jakarta, dan Bandung, sepanjang Oktober hingga November 2026.

Berita Lainnya

Rekomendasi