Ahad 01 Nov 2026 14:12 WIB

Pasar Modal Bergejolak, 23 Perusahaan Tunda IPO

Faktor ekonomi dan kondisi pasar jadi alasan 23 perusahaan tunda IPO.

Rep: Dian Fath Risalah/ Red: Friska Yolandha
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan menjelang akhir pekan. IHSG ditutup di level 5.439,25 pada Hari ini, naik 0,95 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.387,90.
Foto: Republika/Prayogi
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan menjelang akhir pekan. IHSG ditutup di level 5.439,25 pada Hari ini, naik 0,95 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.387,90.

MATARAM — Sebanyak 23 perusahaan memutuskan menunda rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) pada 2026. Kondisi pasar modal dan perekonomian menjadi salah satu pertimbangan perusahaan untuk menunggu waktu yang lebih tepat sebelum melepas saham ke publik.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Agus Firmansyah, mengatakan terdapat 38 perusahaan yang masuk dalam proses IPO sepanjang tahun ini. Namun, hingga 30 Oktober 2026, baru tujuh perusahaan yang memperoleh pernyataan efektif, sedangkan delapan lainnya masih dalam proses. Adapun 23 perusahaan memilih menunda rencana IPO mereka.

Baca Juga

“Kami sangat mengerti melihat kondisi perekonomian dan juga kondisi tertentu mungkin bagi mereka belum layak untuk melakukan IPO di tahun 2026,” ujar Agus dalam Capital Market Journalist Workshop Media Gathering 2026 di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (31/10/2026) malam.

Menurut Agus, keputusan perusahaan untuk menunda IPO tidak terlepas dari pertimbangan terhadap kondisi pasar global maupun domestik. Perusahaan tentu perlu melihat kesiapan dan momentum yang tepat sebelum menawarkan saham kepada masyarakat luas.

Meski sejumlah perusahaan menunda IPO, OJK masih mencatat antrean penawaran umum senilai sekitar Rp 27,9 triliun. Jumlah tersebut mencakup 25 rencana penawaran umum yang terdiri atas IPO, penawaran terbatas, efek bersifat utang dan sukuk (EBUS), serta jenis penawaran lainnya.

Di sisi lain, aktivitas penghimpunan dana di pasar modal masih berjalan dengan baik. Hingga 30 Oktober 2026, jumlah penawaran umum tercatat sebanyak 170 dengan nilai emisi mencapai Rp 202 triliun. Artinya, perusahaan masih memiliki pilihan untuk memperoleh pendanaan melalui pasar modal, meskipun sebagian calon emiten memilih menunggu kondisi yang lebih mendukung untuk melantai di bursa.

 

 

sumber : ANTARA
Berita Lainnya

Rekomendasi