Jumat 30 Oct 2026 12:39 WIB

Bukan Cuma Soal Reaktor, Ini Tantangan Membangun PLTN

Investor membutuhkan kepastian kebijakan dan pasar listrik.

Rep: Lintar Satria Zulfikar/ Red: Satria K Yudha
Sesi panel membahas pengembangan PLTN dalam Singapore International Energy Week (SIEW) di Singapura, Rabu (28/10/2026).
Foto: Lintar Satria/Republika
Sesi panel membahas pengembangan PLTN dalam Singapore International Energy Week (SIEW) di Singapura, Rabu (28/10/2026).

SINGAPURA – Pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) membutuhkan persiapan panjang, bahkan sebelum suatu negara menentukan teknologi reaktor yang akan digunakan. Kesiapan regulator, sumber daya manusia (SDM), rantai pasok industri, serta kepastian kebijakan dan investasi menjadi faktor penting untuk memastikan keberlanjutan proyek energi nuklir.

Executive Vice President Nuclear Canada AtkinsRéalis sekaligus President CANDU International Gary Rose mengatakan pembangunan PLTN harus direncanakan secara matang sejak tahap awal. Menurut Rose, perencanaan diperlukan karena pengembangan energi nuklir melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan, mulai dari keselamatan hingga keberlanjutan investasi.

Baca Juga

“Perencanaan bukan jaminan keberhasilan. Namun, tidak adanya perencanaan merupakan jaminan kegagalan,” kata Rose dalam diskusi panel Nuclear Readiness: Global Insights for Southeast Asia’s Energy Future pada Singapore International Energy Week (SIEW), Rabu (28/10/2026).

Rose menjelaskan, salah satu fondasi utama pengembangan PLTN adalah keberadaan regulator nuklir yang memiliki kapasitas dan pengalaman memadai. Regulator berperan memastikan seluruh tahapan pembangunan hingga pengoperasian pembangkit memenuhi standar keselamatan yang berlaku.

Selain memperkuat regulator, negara yang hendak mengembangkan PLTN perlu membangun kerja sama dengan negara mitra di bidang nuklir. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan juga harus dipersiapkan untuk menghasilkan tenaga ahli yang mampu mendukung pembangunan, pengoperasian, dan pemeliharaan pembangkit.

Kesiapan industri domestik menjadi faktor lain yang perlu diperhitungkan sejak awal. Rose menilai setiap negara perlu menentukan sejauh mana perusahaan lokal dapat terlibat dalam rantai pasok PLTN agar pengembangan energi nuklir tidak sepenuhnya bergantung pada pihak asing.

Dari sisi pembiayaan, kepastian kebijakan pemerintah dinilai menentukan minat investor terhadap proyek nuklir. Pembangunan PLTN membutuhkan modal besar dengan jangka waktu pengembalian investasi yang panjang sehingga memerlukan kepastian operasional dan pasar listrik.

“Ini merupakan investasi besar. Tidak ada negara atau investor yang akan membangun reaktor tanpa kepastian bahwa reaktor tersebut dapat beroperasi dan memberikan pengembalian investasi,” ujarnya.

Vice-President of Marketing and International Business Development CANDU International Todd Smith menilai pendekatan Singapura dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir dapat menjadi pembelajaran bagi negara-negara Asia Tenggara. Singapura dinilai tidak terburu-buru menetapkan target pembangunan PLTN, tetapi lebih dahulu membangun kesiapan infrastruktur dan kelembagaan.

Smith mengatakan Singapura telah menjalin kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) melalui program Milestones Approach. Kerangka tersebut membantu negara mempersiapkan berbagai persyaratan infrastruktur nuklir sebelum mengambil keputusan untuk membangun pembangkit.

“Singapura sedang meluangkan waktu untuk memastikan seluruh komponen proses tersedia dan memenuhi kriteria yang diperlukan. Ketika sudah siap, barulah negara dapat melangkah ke tahap berikutnya,” kata Smith.

Menurut Smith, pembangunan PLTN memerlukan kemitraan jangka panjang antara pemerintah, regulator, penyedia teknologi, industri konstruksi, dan lembaga pendidikan. Kerja sama tersebut tidak hanya diperlukan selama pembangunan, tetapi juga sepanjang masa pengoperasian pembangkit.

Smith memperkirakan pembangunan reaktor nuklir dapat membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun, sementara masa operasionalnya bisa mencapai sekitar 100 tahun dengan pengelolaan dan peremajaan yang tepat. Rentang waktu tersebut menunjukkan bahwa pengembangan PLTN perlu dipandang sebagai pembangunan ekosistem energi dan industri jangka panjang, bukan sekadar proyek konstruksi pembangkit.

CANDU merupakan teknologi reaktor nuklir asal Kanada yang menggunakan uranium alam sebagai bahan bakar dan air berat (heavy water) sebagai moderator untuk memperlambat neutron dalam proses fisi. Teknologi yang dikembangkan dan dikomersialkan Candu Energy Inc., anak perusahaan AtkinsRéalis, tersebut memungkinkan negara pengguna mengembangkan fasilitas fabrikasi bahan bakar sendiri sehingga berpotensi mendukung kemandirian energi.

Berita Lainnya

Rekomendasi