PT Astra International Tbk (ASII), Rabu (28/10/2026), membukukan laba bersih Rp21,6 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Astra mencatatkan pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp243,87 triliun per 30 September 2026.
Presiden Direktur Astra, Rudy, menyatakan bahwa kinerja operasional selama sembilan bulan pertama tahun 2026 tetap menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah berbagai tantangan eksternal. Pertumbuhan yang dicatatkan pada sebagian besar lini bisnis inti tersebut terbukti mampu mengimbangi tekanan yang melanda sektor pertambangan.
Menurut Rudy, momentum perbaikan kinerja paling menonjol terlihat sepanjang kuartal III 2026 jika dibandingkan dengan periode-periode sebelumnya. Akselerasi pemulihan ini, kata dia, didorong oleh peningkatan volume kontrak penambangan, normalisasi produksi tambang emas Martabe, serta ekspansi yang solid di sektor otomotif.
Dari sisi sektoral, bisnis otomotif Astra berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp9,79 triliun, atau mengalami peningkatan 8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp9,03 triliun.
Kenaikan profitabilitas ini merefleksikan pertumbuhan volume penjualan kendaraan serta kontribusi positif dari divisi komponen. Volume penjualan mobil nasional sepanjang sembilan bulan pertama 2026 menembus angka 679.000 unit, melonjak 21 persen secara tahunan. Penjualan kendaraan roda empat di bawah naungan Astra sendiri tumbuh 13 persen dengan penguasaan pangsa pasar domestik sebesar 49 persen melalui merek andalan Toyota dan Daihatsu.
Pada segmen roda dua, penjualan sepeda motor nasional naik 4 persen menjadi 5 juta unit. Penjualan sepeda motor Honda mencatatkan pertumbuhan 3 persen dengan pangsa pasar yang tetap kokoh di level 77 persen.
Sementara itu, kontribusi laba bersih divisi komponen Astra Otoparts turut mendongkrak profitabilitas dengan kenaikan 15 persen menjadi Rp1,4 triliun.
Lini bisnis jasa keuangan juga menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dengan membukukan laba bersih Rp7,15 triliun, meningkat 6 persen dari Rp6,73 triliun pada tahun lalu. Ekspansi ini ditopang oleh kenaikan pembiayaan konsumen serta pertumbuhan kinerja anak usaha di bidang asuransi umum dan jiwa.
Piutang pembiayaan bersih divisi pembiayaan konsumen Astra meningkat 6 persen menjadi Rp132 triliun dibandingkan posisi akhir Desember 2025. Nilai pembiayaan baru ikut terkerek naik 8 persen menjadi Rp92,5 triliun, didorong oleh pembiayaan kendaraan baru serta pembiayaan multi-siklus (multi-cycle).