Ahad 08 Nov 2026 15:32 WIB

Pasar Modal Masih Bergejolak, IHSG Masih Berkutat di Level 5.000-an

Otoritas Jasa Keuangan awasi pasar modal di tengah penurunan indeks saham.

Rep: Eva Rianti/ Red: Friska Yolandha
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan menjelang akhir pekan. IHSG ditutup di level 5.439,25 pada Hari ini, naik 0,95 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.387,90.
Foto: Republika/Prayogi
Pengunjung memantau layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan penguatan menjelang akhir pekan. IHSG ditutup di level 5.439,25 pada Hari ini, naik 0,95 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi 5.387,90.

JAKARTA – Pasar modal Indonesia masih mengalami gejolak, seiring dengan terus berlanjut keluarnya investasi asing di tengah ancaman penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Saat ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi dan masih bertengger di level 5.000-an.

“Data perdagangan BEI selama periode 2—6 November 2026 ditutup dengan IHSG terkoreksi sebesar 0,13 persen menjadi 5.050,429 dari 5.057,050 pada pekan sebelumnya,” tulis PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam keterangan resmi, dikutip Ahad (8/11/2026). 

Baca Juga

Adapun, nilai kapitalisasi pasar BEI tercatat pula mengalami koreksi yakni sebesar 1,34 persen menjadi Rp 8.744 triliun dari posisi Rp 8.862 triliun pada pekan sebelumnya. Rata-rata volume transaksi harian BEI turun sebesar 3,5 persen menjadi 31,29 miliar saham dari 32,43 miliar saham pada pekan sebelumnya. Begitu juga dengan rata-rata frekuensi transaksi harian berkurang sebesar 16,44 persen menjadi 1,29 juta kali transaksi dari 1,54 juta kali transaksi. 

“Rata-rata nilai transaksi harian juga mengalami penurunan sebesar 23 persen menjadi Rp 11,04 triliun dari Rp 14,34 triliun pada pekan sebelumnya. Adapun pada perdagangan Jumat (6/11), investor asing mencatatkan nilai beli bersih sebesar Rp 328,20 miliar. Namun, secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp 98,08 triliun,” terangnya. 

BEI menjelaskan telah melakukan berbagai serangkaian inisiatif strategis dalam mendorong pertumbuhan pasar modal Indonesia. Sepanjang pekan pertama bulan November 2026, BEI bersama sejumlah pemangku kepentingan dan Self-Regulatory Organization (SRO), mendorong pengembangan perusahaan melalui Go Public Academy for SMEs. Juga penguatan transparansi dan tata kelola melalui CEO Networking 2026, penyempurnaan keterbukaan informasi kepemilikan saham melalui publikasi informasi status pemegang saham sebagai pengendali maupun afiliasi pengendali untuk kepemilikan saham di atas 1 persen, serta peningkatan literasi dan partisipasi masyarakat di pasar modal melalui penyelenggaraan Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2026.

Detailnya, pada Senin (2/11/2026), BEI bersinergi dengan Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), PT Surveyor Indonesia, dan perguruan tinggi di Indonesia untuk memperkuat ekosistem pengembangan perusahaan menuju pasar modal melalui penandatanganan nota kesepahaman dan peluncuran Go Public Academy for SMEs di Main Hall BEI. Program ini merupakan bagian dari strategi akselerasi jangka panjang melalui program RISE to IPO yang mencakup edukasi, peningkatan kapasitas, hingga pendampingan perusahaan menuju IPO. 

BEI mencatat, sejak 2025, rangkaian RISE to IPO telah menjangkau 281 perusahaan di lima kota, yaitu Jakarta, Semarang, Surabaya, Makassar, dan Bandung. Inisiatif tersebut bertujuan memperkuat tata kelola, kesiapan keuangan, transparansi, dan daya saing perusahaan agar semakin banyak perusahaan Indonesia mampu bertransformasi menjadi organisasi yang lebih profesional dan berkelanjutan, serta siap memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang. 

Adapun, dalam upaya meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham Perusahaan Tercatat, BEI bersama menerbitan Surat Keputusan (SK) Direksi BEI terbaru Nomor Kep-00160/BEI/11-2026 pada 2 November 2026 tentang Perubahan Ketentuan Laporan Bulanan Kegiatan Registrasi Kepemilikan Saham (SK LBRE). 

“Melalui ketentuan tersebut, informasi kepemilikan saham di atas 1 persen akan dilengkapi dengan status pemegang saham sebagai pengendali maupun afiliasi pengendali dan dipublikasikan secara bulanan melalui situs web BEI. Penyempurnaan bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai struktur dan konsentrasi kepemilikan saham, sehingga dapat menjadi referensi bagi investor dalam pengambilan keputusan investasi sekaligus mendukung penguatan transparansi dan pengawasan pasar modal Indonesia,” jelasnya. 

 

Berita Lainnya

Rekomendasi