Laporan Jurnalis Republika, Lintar Satria, dari Singapore International Energy Week (SIEW) 2026.
SINGAPURA – Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di dunia mencapai level tertinggi dalam empat dekade terakhir seiring meningkatnya kebutuhan energi dan upaya sejumlah negara memperkuat ketahanan pasokan listrik. Badan Energi Internasional (IEA) mencatat kapasitas PLTN yang sedang dibangun secara global mencapai 99 gigawatt (GW).
Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol mengatakan peningkatan pembangunan PLTN menunjukkan kembalinya minat sejumlah negara terhadap energi nuklir. Perubahan tersebut juga terjadi di negara-negara yang sebelumnya berencana menghentikan penggunaan energi nuklir.
“Sekitar tiga setengah tahun lalu, saya mengatakan energi nuklir akan kembali. Ketika melihat kondisi dunia saat ini, energi nuklir memang kembali, bahkan dengan kuat,” kata Birol di sela Singapore International Energy Week (SIEW) 2026, Senin (26/10/2026).
Menurut Birol, semakin banyak negara yang mempertimbangkan pembangunan PLTN sebagai sumber pasokan listrik domestik. Bahkan, negara seperti Spanyol yang sebelumnya berencana menghentikan penggunaan energi nuklir disebut mulai mempertimbangkan kembali kebijakan tersebut.
Birol menilai krisis energi global menjadi salah satu faktor yang meningkatkan minat terhadap pengembangan PLTN. Pembangkit nuklir memungkinkan negara menghasilkan listrik di dalam negeri sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasokan energi dari luar negeri.
Di tengah kebutuhan listrik yang terus meningkat, energi nuklir dinilai dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Namun, Birol mengingatkan pembangunan PLTN membutuhkan pertimbangan matang karena melibatkan investasi besar dan kerja sama teknologi dalam jangka panjang.
Ia menyebut terdapat tiga kriteria utama yang perlu diperhatikan negara sebelum memutuskan membangun PLTN. Ketiganya meliputi keandalan mitra kerja sama, kualitas teknologi, serta biaya pembangunan yang kompetitif.
Dari ketiga aspek tersebut, Birol menempatkan pemilihan mitra kerja sama sebagai pertimbangan paling penting. Pasalnya, pembangunan dan pengoperasian PLTN dapat menciptakan hubungan jangka panjang antara negara pengembang dengan pemasok teknologi hingga hampir satu abad.
Birol mengibaratkan hubungan tersebut seperti pernikahan yang sulit diakhiri. Karena itu, negara yang ingin mengembangkan PLTN perlu memastikan mitra kerja samanya dapat diandalkan dalam jangka panjang.
Selain mempertimbangkan mitra, negara pengembang juga perlu memastikan teknologi nuklir yang dipilih sesuai dengan kebutuhan. Birol mengingatkan adanya kemungkinan negara pemasok menawarkan teknologi lama kepada negara yang baru mulai mengembangkan industri nuklir.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah biaya pembangunan. Menurut Birol, negara perlu menghitung kelayakan investasi dan memastikan biaya proyek PLTN tetap kompetitif sebelum mengambil keputusan.
“Keandalan mitra merupakan hal yang paling penting, kemudian teknologi yang mereka tawarkan dan berapa biayanya. Ketiganya merupakan kriteria utama,” ujar Birol.
Birol meminta negara-negara yang berminat membangun PLTN mengevaluasi ketiga aspek tersebut secara cermat. Keputusan pembangunan pembangkit nuklir tidak hanya menentukan kapasitas pasokan listrik, tetapi juga membawa konsekuensi teknologi, pembiayaan, dan kemitraan internasional dalam jangka panjang.
Meningkatnya pembangunan PLTN global menunjukkan energi nuklir kembali menjadi salah satu pilihan dalam strategi ketahanan energi sejumlah negara. Meski demikian, pemilihan teknologi dan mitra kerja sama menjadi faktor penting agar investasi tersebut dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.