Kamis 15 Oct 2026 13:20 WIB

PLTN Bisa Jadi Sumber Listrik Rendah Karbon, Ini Tantangannya

Keselamatan, investasi, dan penguasaan teknologi menjadi pertimbangan utama.

Rep: Rizky Suryarandika/ Red: Satria K Yudha
Peneliti BRIN melakukan pengecekan kolam reaktor nuklir di fasilitas Reaktor Serba Guna G.A Siwabessy, di kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (15/7/2024).
Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Peneliti BRIN melakukan pengecekan kolam reaktor nuklir di fasilitas Reaktor Serba Guna G.A Siwabessy, di kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (15/7/2024).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai berpotensi menjadi sumber listrik rendah karbon yang mampu memasok energi secara stabil di tengah meningkatnya kebutuhan listrik nasional. Namun, pengembangan teknologi nuklir membutuhkan kesiapan infrastruktur, investasi, tenaga ahli, serta sistem keselamatan dan pengelolaan limbah radioaktif yang memadai.

Peneliti nuklir Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Topan Setiadipura mengatakan, Indonesia perlu meningkatkan pemanfaatan energi rendah karbon untuk memenuhi kebutuhan listrik sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca. PLTN menjadi salah satu opsi karena memiliki karakteristik pembangkitan yang berbeda dibandingkan sejumlah sumber energi terbarukan.

Baca Juga

Menurut Topan, pembangkit listrik tenaga surya dan angin memiliki produksi listrik yang bergantung pada kondisi alam dan waktu. Pemanfaatannya dalam sistem kelistrikan membutuhkan dukungan jaringan, penyimpanan energi, interkoneksi, serta pengelolaan pasokan yang memadai.

"PLTN memiliki karakteristik berbeda karena dapat menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara berkelanjutan, dengan emisi gas rumah kaca yang rendah selama siklus hidup pembangkit dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil," kata Topan dalam diskusi Economic Frontline di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Kemampuan menghasilkan listrik secara berkelanjutan membuat PLTN berpotensi melengkapi sumber energi terbarukan lainnya. Kebutuhan pasokan listrik yang stabil juga semakin penting seiring pertumbuhan industri, elektrifikasi transportasi, dan perkembangan ekonomi digital.

Meski demikian, Topan menilai nuklir bukan satu-satunya solusi transisi energi. Pengembangannya perlu mempertimbangkan kebutuhan sistem kelistrikan Indonesia, kesiapan teknologi, biaya investasi, waktu pembangunan, hingga kemampuan mengelola risiko keselamatan.

photo
Diskusi Economic Frontline membahas potensi pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) sebagai sumber energi rendah karbon di Jakarta, Rabu (14/10/2026). - (Istimewa)

Persoalan limbah radioaktif juga menjadi aspek yang harus diperhitungkan sejak tahap perencanaan. Selain itu, penerimaan masyarakat dan kepastian investasi diperlukan untuk mendukung keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.

Topan mengatakan, pengembangan PLTN perlu disertai investasi pada pendidikan, penelitian, dan peningkatan kompetensi tenaga ahli dalam negeri. Langkah tersebut diperlukan agar Indonesia memiliki kemampuan menguasai dan mengelola teknologi nuklir secara berkelanjutan.

"Dengan demikian, pemanfaatan nuklir tidak hanya berhenti pada pembangunan fasilitas pembangkit, tetapi turut mendorong terbentuknya ekosistem ilmu pengetahuan dan industri berteknologi tinggi," ujar Topan.

Selain kesiapan teknologi, arah kebijakan energi nasional menjadi faktor penting dalam menentukan pengembangan PLTN. Pembangunan pembangkit nuklir memerlukan perencanaan jangka panjang yang mencakup kebutuhan energi, pembiayaan, serta kesiapan industri pendukung.

Perwakilan Dewan Energi Nasional (DEN) M. Khalid Syeirazzi mengatakan, PLTN berpotensi mendukung ketahanan energi nasional karena mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan kebutuhan bahan bakar yang relatif kecil dibandingkan batu bara. Namun, keunggulan tersebut tetap harus diperhitungkan bersama sejumlah tantangan teknis dan ekonomi.

"Namun, Indonesia tetap harus memperhitungkan rantai pasok bahan bakar nuklir, ketergantungan pada teknologi dan komponen tertentu, pembiayaan proyek, serta kemampuan mengelola limbah dan dekomisioning pembangkit," ujar Khalid.

Menurut Khalid, pengembangan PLTN perlu disertai strategi peningkatan kemampuan nasional agar ketergantungan terhadap teknologi dan komponen dari luar negeri dapat dikelola. Hal tersebut berkaitan dengan upaya menjaga keandalan pasokan listrik untuk mendukung kegiatan ekonomi.

Ketergantungan berlebihan pada satu sumber energi juga dinilai dapat meningkatkan kerentanan sistem kelistrikan terhadap gangguan pasokan, perubahan harga, dan kendala operasional. Karena itu, diversifikasi sumber energi diperlukan untuk menjaga ketahanan listrik nasional.

"Ketergantungan berlebihan pada satu sumber energi dapat meningkatkan kerentanan sistem terhadap gangguan pasokan, perubahan harga, maupun kendala operasional. Sebaliknya, diversifikasi sumber energi dapat membantu memperkuat ketahanan sistem kelistrikan apabila direncanakan dan dikelola dengan baik," ujar Khalid.

Dalam bauran energi nasional, PLTN dapat dipertimbangkan sebagai salah satu sumber listrik rendah karbon yang menyediakan pasokan secara stabil. Sementara itu, pengembangan energi terbarukan lainnya tetap perlu disesuaikan dengan karakteristik sumber daya dan kebutuhan kelistrikan di setiap wilayah.

Berita Lainnya

Rekomendasi