Selasa 20 Oct 2026 17:43 WIB

OJK Tanggapi Dugaan Manuver Asing di Balik Rencana MSCI Turunkan Status Pasar Modal RI

Presiden menginstruksikan agar OJK terus menggencarkan upaya reformasi.

Rep: Eva Rianti/ Red: Ahmad Fikri Noor
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026) petang WIB.
Foto: BPMI Setpres
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Senin (19/10/2026) petang WIB.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menanggapi dugaan adanya manuver asing di balik rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar modal Indonesia dari kelompok emerging market (pasar berkembang) menjadi standalone market (pasar mandiri). Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan, pihaknya akan fokus bekerja melakukan reformasi pasar modal.

“Kita kerja saja. Silakan orang lain mengomentari, silakan orang berpikir sendiri, tetapi kita kerja saja,” kata Friderica kepada wartawan seusai menghadiri acara Ijtima’ Sanawi yang digelar Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) di kawasan Jakarta Pusat, Selasa (20/10/2026).

Baca Juga

Friderica, yang kerap disapa Kiki, menegaskan bahwa pihaknya telah menyampaikan perkembangan langkah strategis otoritas dalam menanggapi dinamika pasar kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Menurut penuturannya, Presiden menginstruksikan agar OJK terus menggencarkan upaya reformasi yang telah diamanatkan.

“Kemarin saya sampaikan juga laporan kepada Bapak Presiden. Bapak Presiden menyampaikan, teruskan reformasi yang sangat baik, kemudian tegakkan ketentuan dan enforcement terus,” tegasnya.

Sebelumnya, mantan Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi ramai membahas dugaan adanya manuver asing di balik rencana MSCI menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market. Hal itu diungkapkan Lutfi melalui akun Instagram resminya, @mlutfi, pada Senin (19/10/2026).

“Tiba-tiba lembaga indeks internasional, MSCI, mengeluarkan ancaman mau menurunkan kasta pasar modal Indonesia dari emerging market langsung ke kasta terendah standalone market. Anda tahu apa syarat sebuah negara dimasukkan ke standalone market? Itu kasta untuk negara yang menerapkan capital control,” kata Lutfi, mengutip unggahan Instagram resminya, Selasa (20/10/2026).

Ia menjelaskan, capital control berarti negara tidak memiliki nilai tukar bebas. Pemerintah mematok kurs resmi di atas kertas, tetapi di jalanan berlaku kurs pasar gelap karena masyarakat dilarang melakukan jual beli mata uang.

“Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak,” tuturnya.

Lutfi kemudian menyinggung negara tetangga, Singapura. Ia menyebut sejumlah perusahaan besar di Singapura yang dinilai memiliki andil dalam masalah tersebut, seperti perusahaan investasi Temasek Holdings, BUMN Singapura, dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), sovereign wealth fund milik Singapura.

“Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan, saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Khoo di GIC (Country Director di GIC) yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan,” ungkapnya.

“Come on, Rachel, don’t you know walls in Jakarta do talk and scream? Alasannya dipakai karena ulah segelintir konglomerat kita sendiri, tetapi motif sebenarnya di balik layar jauh lebih licik. Dana-dana institusi asing ini sudah keluar sekitar 80 persen dari pasar Indonesia,” lanjutnya.

Lutfi melanjutkan, persoalannya adalah ketika investor asing tersebut keluar, Bursa Indonesia tidak hancur karena harga saham tidak turun. Mereka tidak bisa masuk kembali untuk membeli dengan harga murah. Karena itu, Lutfi menduga mereka menyiasati keadaan dengan menekan MSCI agar mengancam menurunkan status pasar modal Indonesia menjadi standalone market.

“Bikin kepanikan massal supaya indeks saham kita rontok, lalu mereka borong kembali aset-aset terbaik Indonesia di harga diskon,” ungkapnya.

Pada akhir video berdurasi 2 menit 41 detik tersebut, Lutfi menyampaikan pesan agar bangsa Indonesia tidak mau diadu domba dan dibuat minder oleh negara tetangga.

“Ini soal siapa yang memegang kendali atas kekayaan Indonesia. Kita harus kompak, kita harus patriotik, kita jaga harga diri bangsa kita sendiri,” tutupnya.

photo
Layar digital menunjukkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (31/7/2026). - (Republika/Prayogi)

Berita Lainnya

Rekomendasi