REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) mulai melakukan pembelian kembali saham (buyback) secara bertahap pada Selasa (20/10/2026). Aksi korporasi ini akan berlangsung hingga 22 Mei 2027.
Manajemen Adaro Andalan menyatakan buyback tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada 22 Mei 2026.
“Langkah ini mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kondisi fundamental bisnis perseroan sekaligus mendukung stabilisasi pasar modal Indonesia,” demikian keterangan perseroan, Selasa (20/10/2026).
Perseroan menegaskan tetap berfokus pada pengembangan bisnis di Indonesia. Dalam pelaksanaan buyback, perusahaan menyatakan akan mengedepankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) dan mematuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Di tengah pelaksanaan aksi korporasi tersebut, pasar modal Indonesia juga menjadi sorotan menyusul pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada 15 Oktober 2026 mengenai konsultasi atas rencana perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan BEI telah menggelar pertemuan daring dengan MSCI pada Selasa (20/10/2026), menyusul pengumuman konsultasi perubahan klasifikasi pasar Indonesia. Namun, dia tidak mengungkapkan detail maupun kesimpulan pertemuan tersebut.
BEI juga menyiapkan dua inisiatif baru untuk memperkuat transparansi pasar modal. Pertama, menambahkan keterangan status afiliasi dalam publikasi nama pemegang saham dengan kepemilikan 1 persen. Kedua, mengeluarkan seluruh saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholding concentration/HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Jeffrey menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti saham-saham HSC akan dihapus dari bursa. Saham tersebut tetap dapat diperdagangkan, tetapi pergerakan harganya tidak lagi memengaruhi IHSG. Saat ini, saham kategori HSC mencakup sekitar 18 persen, sementara waktu efektif penerapan kedua inisiatif tersebut akan diumumkan kemudian.
Meski mulai melaksanakan buyback, Adaro juga belum membeberkan rincian nilai anggaran maupun jumlah saham yang akan dibeli kembali.