Jumat 16 Oct 2026 16:37 WIB

Kurs Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dolar AS, Terpengaruh Pengumuman MSCI yang Dipercepat

Airlangga mempertanyakan sikap MSCI yang melakukan pengumuman lebih dini.

Rep: M Nursyamsi/ Red: Andri Saubani
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta.
Foto: Republika/Prayogi
Karyawan menghitung uang pecahan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan rencana konsultasi penyedia indeks saham global, Morgan Stanley Capital International (MSCI) menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging) menjadi pasar tersendiri (standalone) mengakibatkan melemahnya kurs rupiah. Airlangga mempertanyakan sikap MSCI yang melakukan pengumuman lebih dini dari rencana awal.

"Pertama tentu ada akibat pengumuman MSCI yang katakan lah lebih cepat daripada ekspektasi yang sebetulnya mereka menjanjikannya di November, tapi ini di Oktober," ujar Airlangga di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Baca Juga

Airlangga menyampaikan MSCI meminta implementasi dari sejumlah komitmen pasar modal Indonesia. Airlangga menyebut pemenuhan implementasi tersebut tentunya memerlukan waktu.

"Nah tentu ini yang harus dijelaskan mengapa prosesnya membutuhkan waktu," ucap Airlangga.

Kendati begitu, sambung Airlangga, hal ini menjadi catatan penting bagi Bursa Efek Indonesia (BEI). Airlangga menyebut reformasi pasar modal Indonesia harus dapat terealisasi dalam memberikan kepercayaan bagi investor dalam negeri dan luar negeri.

"Beberapa hal lain yang terkait dengan hal teknis, nanti tentu kami akan bicara dengan bursa bahwa kita berharap langkahnya konkret beserta timeline-nya," kata Airlangga.

Pada pembukaan perdagangan Jumat, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak melemah 83 poin atau 0,46 persen menjadi Rp18.021 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.938 per dolar AS. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pelemahan rupiah dipengaruhi laporan MSCI, terkait potensi reklasifikasi pasar saham Indonesia.

“MSCI mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market (EM) menjadi Standalone Market. Masukan dari pelaku pasar akan diterima hingga 30 April 2027, dengan keputusan final diharapkan sebelum 30 Juni 2027,” ungkapnya di Jakarta, Jumat.

Sebelumnya, MSCI pada Juni 2026 telah mengumumkan apabila kemajuan yang memadai belum terlihat pada November 2026 Index Review, MSCI akan mempertimbangkan untuk meluncurkan konsultasi mengenai reklasifikasi pasar Indonesia. Pelaku pasar telah melaporkan kepada MSCI bahwa hingga saat ini belum ada kemajuan yang cukup secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia.

Meskipun reformasi telah diumumkan, masih terdapat kekhawatiran yang signifikan di sekitar disfungsi pasar, termasuk dugaan masih adanya perilaku perdagangan yang terkoordinasi dan kurangnya bukti penegakan yang berarti.

Oleh karena itu, MSCI tidak lagi menganggap klasifikasi lanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tepat, dan sedang meluncurkan konsultasi mengenai proposal untuk mengklasifikasi ulang Indonesia sebagai Standalone Market.

“Hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp17.925–Rp18.050 per dolar, di tengah sentimen risk-off setelah pengumuman MSCI,” ucap dia.

 

sumber : Antara
Berita Lainnya

Rekomendasi