Jumat 16 Oct 2026 11:17 WIB

Komisaris Optimistis Suroso Isnandar Lanjutkan Transformasi PLN

Sejumlah proyek pembangkit diperkirakan mulai dibangun pada 2027.

Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani dan Dirut PT PLN (Persero) Suroso Isnandar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Foto: BPMI Setpres
Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani dan Dirut PT PLN (Persero) Suroso Isnandar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kepemimpinan Suroso Isnandar sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero) diharapkan menjaga kesinambungan transformasi perusahaan, terutama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT). Pengalaman Suroso dalam manajemen risiko dan pengelolaan proyek dinilai menjadi modal untuk melanjutkan berbagai program strategis PLN yang telah dirintis pada masa kepemimpinan Darmawan Prasodjo.

Komisaris Independen PLN Andi Arief mengatakan, pergantian direktur utama merupakan dinamika yang wajar dalam organisasi perusahaan. Ia optimistis Suroso mampu melanjutkan transformasi PLN sekaligus mengawal agenda pengembangan ketenagalistrikan nasional.

Baca Juga

“Kalau menurut saya, pergantian ini biasa saja. Pak Darmawan Prasodjo sudah cukup lama di PLN. Beliau pernah menjadi komisaris, wakil direktur utama, kemudian direktur utama,” ujar Andi dalam keterangan yang diterima pada Jumat (16/10/2026).

Menurut Andi, kesinambungan transformasi menjadi hal penting dalam pergantian kepemimpinan PLN. Terlebih, Suroso sebelumnya pernah menjabat sebagai direktur manajemen risiko serta direktur yang menangani manajemen proyek dan energi baru terbarukan.

“Ini menjamin continuity. Transformasi yang sudah dilakukan Pak Darmawan Prasodjo, dengan banyak perubahan di PLN, diharapkan bisa dilanjutkan oleh Pak Suroso. Jadi, menurut saya, tidak ada masalah dengan pergantian ini,” katanya.

Andi menilai pengalaman tersebut relevan dengan agenda PLN dalam mempercepat pembangunan infrastruktur kelistrikan dan meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan. Perusahaan memiliki sejumlah program pengembangan pembangkit yang perlu dilaksanakan secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.

Salah satu agenda yang menjadi perhatian adalah rencana penambahan kapasitas pembangkit hingga 2034. Andi menyebut kapasitas pembangkit baru yang direncanakan mencapai sekitar 59 gigawatt (GW), dengan porsi energi terbarukan sekitar 70 persen.

“Kalau kita melihat rencana sampai 2034, sekitar 70 persen dari pembangunan pembangkit yang direncanakan merupakan energi terbarukan. Karena itu, ke depan kita akan membangun berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, angin, hingga nuklir,” ujar Andi.

Pengembangan pembangkit tersebut membutuhkan kesiapan infrastruktur, perencanaan proyek, dan dukungan regulasi. Menurut Andi, seluruh aspek tersebut perlu disiapkan agar pembangunan dapat berjalan sesuai kebutuhan sistem kelistrikan nasional.

Selain pembangkit tenaga surya, air, dan angin, Andi turut menyinggung rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir. Namun, realisasi proyek tersebut masih menunggu kebijakan pemerintah, termasuk keputusan mengenai lokasi dan tahapan pembangunannya.

Andi juga menyampaikan bahwa PLN telah merancang lebih dari 700 proyek ketenagalistrikan yang perlu dipersiapkan menuju tahap pelaksanaan. Proyek-proyek tersebut harus melewati sejumlah prosedur, mulai dari perencanaan hingga tender, sebelum pembangunan dapat dilakukan.

“Sekarang ada lebih dari 700 proyek yang sudah dirancang. Ada prosedur yang harus diselesaikan, mulai dari perencanaan sampai tender. Setelah itu, pembangunan pembangkit bisa mulai berjalan secara bertahap,” katanya.

Andi memperkirakan sejumlah proyek pembangkit mulai memasuki tahap pembangunan pada 2027. Realisasi proyek tersebut diharapkan meningkatkan investasi di sektor ketenagalistrikan sekaligus membuka peluang bagi industri pendukung, penyedia barang dan jasa, serta tenaga kerja.

Menurut Andi, pembangunan pembangkit juga memiliki peran penting dalam mendukung kebutuhan listrik nasional yang terus berkembang. Ketersediaan pasokan listrik menjadi salah satu faktor penunjang aktivitas industri dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, transformasi PLN perlu tetap sejalan dengan kebijakan energi pemerintah. Andi menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai percepatan transformasi perusahaan, terutama dalam mendukung pengembangan energi terbarukan.

Ia berharap pengalaman Suroso dalam pengelolaan proyek dapat membantu PLN menjaga kesinambungan program sekaligus mempercepat realisasi pembangunan pembangkit. Pelaksanaan proyek juga perlu memperhatikan efisiensi, kesiapan infrastruktur, dan kebutuhan sistem kelistrikan.

“Yang penting adalah transformasi yang sudah berjalan tetap dilanjutkan dan percepatan pembangunan pembangkit bisa dilakukan. Kita berharap proyek-proyek yang sudah direncanakan dapat segera masuk tahap pembangunan,” ujar Andi.

Berita Lainnya

Rekomendasi