Kamis 15 Oct 2026 14:58 WIB

Pakar: PLN Perlu Perkuat Jaringan Listrik untuk Dukung Transisi Energi

Kepemimpinan Suroso dinilai bisa mempercepat transisi energi

Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani dan Dirut PT PLN (Persero) Suroso Isnandar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Foto: BPMI Setpres
Menteri Investasi Rosan Perkasa Roeslani dan Dirut PT PLN (Persero) Suroso Isnandar di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (14/10/2026).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengembangan energi baru terbarukan (EBT) perlu diimbangi dengan kesiapan jaringan transmisi dan distribusi serta teknologi penyimpanan energi. Langkah ini penting agar peningkatan kapasitas pembangkit dapat terserap secara optimal dan mendukung keandalan pasokan listrik nasional.

Dewan Penasihat Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Feiral Rizky Batubara, mengatakan kepemimpinan baru PT PLN (Persero) memiliki peluang untuk memperkuat sistem kelistrikan nasional, terutama dalam mendukung industrialisasi, hilirisasi, dan transisi energi.

Menurut Feiral, pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar menjadi momentum untuk memperkuat fondasi kemandirian energi Indonesia. Tantangan pimpinan baru PLN tidak hanya meningkatkan kapasitas pembangkit, tetapi juga memastikan sistem kelistrikan mampu memenuhi kebutuhan pembangunan nasional.

“Sektor ketenagalistrikan memiliki posisi yang sangat strategis karena keandalan pasokan listrik akan menentukan keberhasilan agenda pembangunan, mulai dari industrialisasi hingga hilirisasi,” ujar Feiral yang juga merupakan pengamat ketahanan energi.

Feiral mengapresiasi kontribusi Darmawan Prasodjo selama memimpin PLN. Ia juga menilai pengalaman Suroso Isnandar di bidang sistem tenaga, manajemen proyek, dan energi terbarukan dapat menjadi modal untuk menghadapi tantangan sektor ketenagalistrikan.

Namun, menurut dia, pengalaman tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan langkah operasional yang memperkuat keandalan pasokan listrik sekaligus mempercepat transformasi energi nasional.

Feiral mengingatkan bahwa pengembangan EBT tidak cukup hanya dengan menambah kapasitas pembangkit, termasuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). PLN juga perlu menyiapkan infrastruktur pendukung agar produksi listrik dari sumber energi terbarukan dapat dimanfaatkan secara optimal.

Produksi listrik PLTS bergantung pada intensitas matahari sehingga pasokannya dapat berubah sepanjang hari. Kondisi tersebut menuntut sistem kelistrikan yang fleksibel untuk menyeimbangkan pasokan dengan kebutuhan listrik.

“Pengembangan PLTS harus berjalan seiring dengan pembangunan jaringan transmisi dan distribusi, sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS), serta peningkatan fleksibilitas sistem. PLN harus mampu menyeimbangkan pasokan dan permintaan listrik setiap saat,” tegasnya.

Kesiapan infrastruktur juga diperlukan untuk mengurangi risiko curtailment, yakni pembatasan produksi listrik dari pembangkit ketika sistem tidak mampu menyerap seluruh energi yang tersedia.

Karena itu, Feiral menilai PLN perlu mengintegrasikan perencanaan pembangkit dengan pembangunan jaringan transmisi, distribusi, dan penyimpanan energi. Integrasi tersebut diperlukan agar penambahan kapasitas EBT berjalan seiring dengan kemampuan sistem dalam menyalurkan dan mengelola pasokan listrik.

Ia berharap kepemimpinan Suroso Isnandar dapat memperkuat sistem kelistrikan yang tangguh, efisien, dan adaptif terhadap perubahan kebutuhan energi.

Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, pengembangan energi terbarukan diharapkan tidak hanya mempercepat transisi energi, tetapi juga memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Berita Lainnya

Rekomendasi